Rabu, 25 Maret 2026

Industri Kayu Global Tertekan, Hanya Indonesia dan Thailand Catat Ekspansi

Latest

- Advertisement -spot_img

Industri kayu global menunjukkan kinerja yang tidak merata pada Januari 2026 di tengah tekanan biaya produksi dan keterbatasan bahan baku.

Laporan terbaru Global Timber Index (GTI) mencatat sektor kehutanan di Indonesia dan Thailand kembali tumbuh, sementara sebagian besar negara tropis lainnya serta China mengalami kontraksi.

GTI yang didukung International Tropical Timber Organization (ITTO) mengukur performa sektor kayu di sejumlah negara percontohan di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

Pada Januari 2026, indeks Indonesia mencapai 55,1 persen dan Thailand 54,2 persen, melampaui ambang batas 50 persen yang menandakan ekspansi. Sebaliknya, Gabon mencatat 48,3 persen, Brasil 47,2 persen, Republik Kongo 46,0 persen, China 45,0 persen, Ghana 41,0 persen, Meksiko 39,8 persen, Malaysia 37,5 persen, dan Ekuador 36,3 persen, yang menunjukkan perlambatan aktivitas.

Sub-indeks regional memperlihatkan dinamika yang beragam. Di Asia Tenggara, pasar domestik Indonesia dan Thailand membaik dan volume produksi meningkat.

Di Afrika, aktivitas panen dan produksi di Gabon serta Republik Kongo relatif stabil. Di Amerika Latin, kinerja ekspor menjadi titik terang dengan kenaikan volume ekspor bulanan Brasil dan Meksiko, sementara pasar ekspor Ekuador mulai stabil setelah sebelumnya menurun.

Meski demikian, indeks khusus masih mencerminkan tekanan. GTI-Producers Index berada di level 48,9 persen dan GTI-Woodbased Panel Index tercatat 43,6 persen, keduanya masih di zona kontraksi.

Pelaku usaha yang menjadi responden survei melaporkan pasokan bahan baku yang tidak stabil dan tingginya biaya produksi sebagai tantangan utama.

Sejumlah perusahaan di Indonesia, Thailand, Brasil, dan Ekuador mengeluhkan keterbatasan bahan baku, sementara pelaku usaha di Malaysia, Ghana, dan China menghadapi kenaikan harga pembelian kayu. Selain itu, biaya tenaga kerja, listrik, bahan bakar, dan pajak turut menekan margin usaha.

“Tekanan biaya dan pasokan bahan baku menjadi isu yang masih kami hadapi di berbagai negara. Perusahaan mendorong penguatan pengendalian biaya serta dukungan kebijakan pemerintah, seperti insentif pajak dan subsidi,” demikian catatan dalam laporan GTI.

Dalam tinjauan tahunan, beberapa negara tetap mencatat pertumbuhan ekspor. Ekspor furnitur dan komponennya dari Thailand mencapai sekitar 1,80 miliar dolar AS pada 2025 atau naik hampir 24 persen dibanding tahun sebelumnya.

Brasil juga mencatat pemulihan ekspor kayu gergajian sebesar 5 persen menjadi 2,96 juta meter kubik pada 2025 setelah tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan.

Meskipun pengiriman ke Amerika Serikat turun 12 persen menjadi 842 ribu meter kubik, ekspor Brasil ke China, Spanyol, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan sejumlah pasar lain meningkat.

Sejumlah negara percontohan GTI juga melaporkan langkah kebijakan baru untuk merespons tantangan industri.

Di Gabon, asosiasi kehutanan dan operator kereta api mencapai kesepakatan untuk menghapus kewajiban pembayaran tunai sebelum pengangkutan kayu guna meringankan tekanan arus kas.

Di sisi permintaan, Brasil, Meksiko, dan Ekuador meluncurkan kebijakan perumahan baru yang diproyeksikan mendorong permintaan kayu dan produk turunannya pada tahun ini.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan industri kayu global masih berlangsung secara tidak merata dan sangat dipengaruhi oleh faktor biaya, pasokan bahan baku, serta dinamika pasar ekspor.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles