Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menyerukan pentingnya kolaborasi antara sains dan kebijakan publik untuk menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Pernyataan resmi ini ia sampaikan saat menghadiri acara Exhibition and Tribute to Prof. Emil Salim yang digelar Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) dalam rangka Dies Natalis ke-9, di Soehanna Hall, Jakarta, Sabtu (27/7).
Dalam sambutannya, Diaz memberikan apresiasi terhadap peran Prof. Emil Salim dalam merintis fondasi kebijakan lingkungan hidup di Indonesia.
Ia menyoroti kontribusi Prof. Emil dalam merancang UU No. 4 Tahun 1982, program PROKASIH dan PROPER, serta mendorong terbentuknya Kementerian Lingkungan Hidup pada era Presiden Soeharto.
“Prof. Emil bukan hanya pelopor gerakan lingkungan hidup, tapi juga arsitek kebijakan yang menyatukan sains dengan arah pembangunan nasional,” ujar Diaz.
Diaz menekankan bahwa saat ini pemerintah membutuhkan masukan dari institusi akademik agar kebijakan berbasis bukti dan sains dapat menyeimbangkan dinamika politik dalam pengambilan keputusan.
“Kami ingin semua kebijakan lingkungan dibuat secara ilmiah, tidak hanya berdasarkan tekanan politis. Untuk itu, peran universitas seperti SIL UI sangat krusial,” tegasnya.
Diaz juga menyoroti krisis sampah sebagai isu darurat yang berdampak pada perubahan iklim. Ia menyebutkan bahwa satu ton sampah dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca setara 1,7 ton CO₂e. Volume sampah harian Jakarta yang mencapai 7.500 ton menurutnya sangat mengkhawatirkan.
Lebih lanjut, Diaz menyinggung kondisi sungai dan laut yang tercemar akibat kebiasaan buruk masyarakat. Ia menekankan bahwa pencemaran ini dapat mengancam ketahanan air bersih dan kelangsungan hidup generasi mendatang.
Acara turut dihadiri Rektor Universitas Indonesia Prof. Heri Hermansyah, Direktur SIL UI Prof. Jatna Supriatna, serta Sekretaris SKK Migas Luky Agung Yusgiantoro. Rektor UI menekankan pentingnya melanjutkan warisan intelektual Prof. Emil Salim melalui riset dan aksi nyata.
“SIL UI adalah hasil pemikiran besar Prof. Emil. Sudah sepatutnya kita lanjutkan agar tetap relevan dalam menjawab tantangan lingkungan,” kata Heri.
Prof. Jatna Supriatna menyampaikan bahwa SIL UI kini menempati peringkat pertama di Indonesia dalam bidang environmental science versi QS Award by Subject 2025.
Luky Agung Yusgiantoro menutup sambutan dengan ajakan untuk membumikan pemikiran Prof. Emil Salim dalam aksi generasi muda.
“Pemikiran Prof. Emil harus kita teruskan dalam bentuk aksi nyata agar semangat keberlanjutan bisa diwariskan,” ujar Luky.
Sebagai penutup acara, panitia menyerahkan penghargaan kepada Prof. Emil Salim yang diwakili putra-putrinya, serta Prof. Jatna Supriatna sebagai tokoh lingkungan dan guru besar SIL UI. ***



