Senin, 15 Juli 2024

Menteri LHK Ungkap Upaya Pengendalian Karhutla Tahun 2022, Sebut Keterlibatan Semua Pihak

Latest

- Advertisement -spot_img

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya memaparkan langkah-langkah untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tahun 2022.

Menurut Menteri Siti pengendalian karhutla akan dilakukan sejak dini.

Menteri Siti juga menyatakan pentingnya keterlibatan semua pihak untuk mengendalikan karhutla seperti halnya pada tahun 2021.

Demikian dipaparkan Menteri Siti lewat cuitannya di akun Twitter resminya @SitiNurbayaLHK, Senin 10 Januari 2022 malam.

Dalam cuitannya tersebut menteri Siti mengunggah kegiatan rapat bersama para pihak untuk mencegah bencana asap di tengah Pandemi Corona.

“Terima kasih buat semua pihak yang terlibat bersama menjaga tahun 2021 Indonesia bebas bencana asap Karhutla,” cuit Menteri Siti.

Menteri Siti memaparkan Perbandingan hotspot antara Tahun 2020 dan 2021 berdasarkan Satelit Terra/Aqua (LAPAN) Conf.Level ≥80% turun sebanyak 1.532 titik atau setara 52,48%.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan karhutla pada tahun 2021 seluas 353.22 hektare.

Ini melanjutkan tren kejadian karhutla yang rendah tahun sebelumnya. Tahun 2020 karhutla hanya terjadi seluas 296.942 hektare.

Luas kejadian karhutla pada tahun 2021 itu berarti Indonesia berhasil menurunkan karhutla hingga 87,06% berbasis rekaman tahun 2014 yang seluas 1,5 juta hektare.

“Di tahun 2022, berbagai langkah antisipasi Karhutla akan terus dilakukan sejak dini,” kata Menteri Siti.

Menurut dia, ada beberapa arahan pokok Presiden Joko Widodo dalam pengendalian karhutla.

Arahan itu yakni prioritaskan Pencegahan; Penataan pengelolaan ekosistem gambut dengan pengendalian/penataan hidrologi;

Pengendalian dan pemadaman sesegera mungkin pada setiap titik api yang muncul;

Penegakkan hukum secara tegas bagi pembakar hutan agar memberikan efek jera;

dan mencari solusi permanen sebagai upaya mengurangi tindakan pembakaran hutan dan lahan yang sengaja untuk motif ekonomi.***

More Articles