Kunjungan 31 Perusahaan AS: Indonesia Tetap Menarik Untuk Investasi

Latest

- Advertisement -spot_img

Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara, didampingi Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung dan pejabat Eselon I Kemenkeu, menerima delegasi 31 perusahaan Amerika Serikat yang tergabung dalam US-ASEAN Business Council Mission to Indonesia 2026, dipimpin Duta Besar Brian McFeeters.  Termasuk dalam delegasi, antara lain, perwakilan dari Boeing, Exxon-Mobil, Citi, Visa, Master Card, Google, IBM, Meta, Oracle Netflix dan Pepsi Co. Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo turut hadir dalam pertemuan yang menyampaikan minat kuat dunia usaha AS terhadap Indonesia.

Dalam pengantarnya, Menkeu Suahasil menegaskan fundamental ekonomi Indonesia kokoh. Perekonomian tumbuh 5,45 persen pada semester I-2026, dengan inflasi terkendali dan kinerja APBN yang terjaga di tengah gejolak global. Ia juga menyoroti sinergi antara Kemenkeu sebagai pengelola fiskal, Bank Indonesia sebagai pengelola kebijakan moneter dan Danantara sebagai pendorong investasi strategis.

Menjawab pertanyaan para industrialis AS, Menteri Suahasil menjelaskan penerapan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia serta minat besar perusahaan teknologi AS untuk berinvestasi, terutama dalam pembangunan pusat data. Ia juga memperkenalkan penerapan teknologi digital Coretax dalam sistem perpajakan. Melalui platform terintegrasi ini, administrasi perpajakan menjadi lebih efisien, termasuk proses restitusi pajak yang diharapkan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.

Menkeu mengundang investor AS untuk mendukung program prioritas pemerintah: swasembada pangan, swasembada energi, dan hilirisasi industri. Khusus di sektor migas, ia mengajak perusahaan AS meningkatkan kegiatan eksplorasi, sambil menegaskan bahwa berbagai insentif kebijakan tengah dirancang. Indonesia juga memperbesar layanan kesehatan bagi 285 juta penduduk, membuka peluang besar bagi teknologi medis dan layanan kesehatan modern.

Dubes Indroyono Soesilo menyampaikan sejumlah isu yang sedang dicermati industrialis AS, seperti progress revisi Undang-Undang Hak Cipta, revisi UU Migas, pengembangan industri semikonduktor, serta keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok global. Hal ini penting karena Indonesia memiliki sumber daya alam strategis, populasi besar, posisi geografis sentral di kawasan Indo-Pasifik, serta ambisi menjadi bagian dari jaringan produksi teknologi dan manufaktur dunia—bukan sekadar pasar, tetapi mitra produksi dan inovasi.

Secara umum, para industrialis AS tetap memandang Indonesia sebagai negara  yang menarik untuk berinvestasi. Alasannya jelas: pasar domestik yang luas, pertumbuhan ekonomi yang stabil, transformasi digital yang berjalan, kekayaan sumber daya alam, serta program deregulasi yang terus dipercepat untuk mempermudah izin dan kepastian usaha. Investasi AS di Indonesia pada triwulan I–III 2026 sudah mencapai 3,4 miliar dolar AS, meningkat dari sekitar 3 miliar dolar AS pada tahun 2025, year-on-year.

Pertemuan ini ditutup dengan harapan besar: agar kemitraan Indonesia–Amerika Serikat tidak berhenti pada dialog, melainkan menjelma menjadi investasi nyata—menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, mempercepat hilirisasi, dan membawa Indonesia lebih dekat ke pusat rantai pasok global.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles