Kementerian Kehutanan mendorong pemerintah daerah, sektor usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas untuk memperkuat pembinaan generasi muda pelestari hutan. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk membuka akses pembelajaran, pendampingan, dan keterlibatan langsung bagi anak muda dalam upaya menjaga kelestarian hutan.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Rapat Penguatan Kolaborasi Multipihak dalam Membangun Generasi Pelestari Hutan Regional Jawa yang berlangsung di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, pada 12–13 Oktober 2026. Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, menginisiasi pertemuan tersebut untuk menyatukan langkah berbagai pihak dalam membina generasi muda.
Plt. Kepala BP2SDM Indra Exploitasia, melalui Kepala Pusgenri Luckmi Purwandari, menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian hutan tidak cukup mengandalkan kebijakan dan program pemerintah. Upaya tersebut juga membutuhkan keterlibatan generasi penerus yang memiliki kepedulian dan kemauan untuk bertindak.
“Hutan Indonesia tidak akan lestari hanya dengan regulasi, patroli, dan program pemerintah. Hutan akan lestari apabila ada generasi yang peduli, mau belajar, mau bergerak, dan mau meneruskan,” ujar Luckmi saat menyampaikan arahan Indra dalam pembukaan kegiatan.
Ia menambahkan, pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, serta generasi muda perlu bergotong royong agar upaya pelestarian hutan berjalan berkelanjutan.
Selain kolaborasi, Kementerian Kehutanan menekankan pentingnya tata kelola dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program. Inspektur II Kementerian Kehutanan Nur Sumedi, yang mengikuti kegiatan secara daring, mengingatkan setiap pihak agar memiliki tujuan dan pembagian peran yang jelas.
“Semangat kolaborasi perlu dibarengi dengan tata kelola yang baik sejak awal. Tujuan harus jelas, peran masing-masing pihak harus terukur, dan pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan,” kata Nur Sumedi.
Forum tersebut melibatkan unit kerja BP2SDM, Balai P2SDM, unit pelaksana teknis Kementerian Kehutanan di wilayah Jawa, pemerintah daerah, dinas pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama, perguruan tinggi, pelaku usaha kehutanan, mitra, dan perwakilan generasi muda pelestari hutan. Para peserta membahas peluang kerja sama yang dapat diterapkan di daerah sesuai dengan kebutuhan pembinaan anak muda.
Sebagai unit kerja baru, Pusgenri memiliki mandat untuk menumbuhkan, membina, dan menggerakkan generasi pelestari hutan. Dukungan lintas sektor diperlukan agar program pembinaan menjangkau lebih banyak anak muda serta menyediakan ruang belajar dan pendampingan yang relevan.
Kepala Bidang Pembinaan Perilaku Generasi Peduli Cinta Alam Ernawati Eko Hartono, yang mewakili Kepala Pusgenri dalam laporan penyelenggaraan, menyampaikan bahwa rapat koordinasi ini juga bertujuan menyamakan pemahaman mengenai tugas, fungsi, dan arah kebijakan Pusgenri.
Agenda pertemuan turut mencakup pembahasan tata kelola dan akuntabilitas serta sosialisasi kategori Penghargaan Wana Lestari. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari persiapan penyelenggaraan penghargaan tersebut pada 2027.
Pusgenri akan terlibat dalam lima kategori Penghargaan Wana Lestari 2027, yaitu Generasi Muda Pelestari Hutan, Pelaku Usaha Penggerak Generasi Muda Pelestari Hutan, Pemerintah Daerah Penggerak Generasi Muda Pelestari Hutan, Sekolah Penggerak Generasi Muda Pelestari Hutan, serta Wirausaha Muda Kreatif Kehutanan. Kategori-kategori tersebut ditujukan untuk mengapresiasi anak muda sekaligus pihak yang berkontribusi dalam mendukung tumbuhnya generasi pelestari hutan.
Melalui pertemuan ini, Kementerian Kehutanan mendorong seluruh pihak menyusun tindak lanjut kolaborasi secara konkret, mulai dari pembagian tanggung jawab hingga jadwal dan pelaksanaan kegiatan. Langkah tersebut diharapkan memperkuat peran generasi muda sebagai mitra strategis dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia.
***



