Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan berpotensi terus berulang jika pemerintah dan pemangku kepentingan tidak memperkuat mitigasi serta memperbaiki tata kelola ekosistem gambut. Relawan konservasi menilai, pola kemarau yang berulang seharusnya menjadi dasar penyusunan strategi pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas setiap kali curah hujan menurun.
Paulinus Kristianto, pendiri Conservation Action Network (CAN) Borneo sekaligus relawan konservasi satwa dan karhutla, mengatakan masyarakat Dayak telah lama mengenali pola musim kering di Kalimantan. Pengalaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi pijakan untuk mengantisipasi risiko kebakaran sebelum kondisi semakin parah.
“Sebagai orang Dayak, saya mengenal siklus kebakaran tahunan. Setiap tahun pasti ada fase kemarau biasa yang berlangsung paling lama dua sampai tiga minggu, atau maksimal satu bulan. Kemudian, ada siklus lima sampai tujuh tahunan yang kita kenal sebagai El Nino, di mana kemaraunya bisa mencapai tiga hingga empat bulan,” ujar Linus, Rabu (21/10/2026).
Linus menjelaskan bahwa terdapat beberapa pola kemarau yang memengaruhi tingkat kerawanan kebakaran di Kalimantan. Selain kemarau tahunan yang relatif singkat, ia mengidentifikasi periode kemarau panjang yang menurut pengalamannya berulang setiap lima hingga tujuh tahun. Ia juga mengingatkan adanya siklus yang lebih panjang, yakni sekitar 20–25 tahun, yang dapat membawa kondisi kering hingga enam bulan.
Ia mengaitkan sejumlah kebakaran besar pada 2013, 2015, 2019, dan 2026 dengan periode kemarau yang lebih panjang. Menurutnya, pemahaman terhadap pola tersebut perlu diikuti langkah pencegahan yang terencana, bukan hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul.
Namun, Linus menegaskan bahwa kondisi cuaca bukan satu-satunya faktor yang menentukan besarnya kebakaran. Ia menilai perubahan tata guna lahan dan kerusakan hidrologi gambut akibat pengeringan turut meningkatkan kerentanan kawasan terhadap api.
“Kalau kita pantau lewat citra satelit, titik kebakaran itu berada di lahan gambut, semak belukar, dan hutan sekunder muda yang mudah terbakar, bukan di hutan rimba murni,” jelasnya.
Menurut Linus, sejumlah kawasan gambut mengalami pengeringan setelah pembangunan kanal dan aktivitas pengelolaan lahan pada masa lalu. Ketika musim kering tiba, kondisi tersebut membuat lahan lebih mudah terbakar dan memungkinkan kebakaran berulang di lokasi yang sama.
Untuk mengurangi risiko tersebut, ia mendorong pemerintah memperluas pembangunan sekat kanal atau canal blocking guna menjaga kelembapan gambut. Ia juga meminta pemerintah menghentikan pemberian izin baru perkebunan kelapa sawit di ekosistem gambut sebagai bagian dari upaya melindungi kawasan yang rentan terbakar.
Linus menilai pemerintah perlu menggeser fokus penanganan karhutla dari respons darurat menuju mitigasi jangka panjang. Ia menyebut keterlibatan masyarakat desa, kepatuhan perusahaan terhadap standar operasional prosedur (SOP), dan koordinasi pemerintah pusat sebagai tiga unsur yang harus berjalan beriringan.
“Permasalahan terbesar dari kebakaran ini adalah mitigasi bencananya. Kita sudah paham betul jadwal kemarau pendek dan kemarau panjang, maka mitigasinya yang harus diperkuat,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa tanpa koordinasi yang konsisten antara masyarakat, perusahaan, dan pemerintah, kebakaran berisiko kembali terjadi setiap kali kemarau panjang melanda. Karena itu, setiap pihak perlu menjalankan tanggung jawab pencegahan, termasuk memantau kondisi lahan, menjaga tata air gambut, dan menindaklanjuti potensi kebakaran sejak dini.
Dalam upaya pemulihan jangka panjang, Linus turut menyoroti pentingnya lembaga yang secara khusus mengawal rehabilitasi ekosistem gambut dan mangrove. Ia mengapresiasi pembentukan Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menurutnya dapat memperkuat koordinasi pemulihan ekosistem dan penanganan di tingkat tapak.
“Presiden telah mengambil langkah cepat dengan membentuk badan baru. Saya kira itu kunci utamanya ke depan. Langkah ini sangat tepat agar kita bisa kembali merevitalisasi gambut sekaligus memperkuat ‘pertempuran’ di tingkat tapak,” pungkas Linus.
***



