Senin, 15 Juli 2024

AS Ingin Jadi Mitra Kuat Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, Sebut Indonesia Sebagai Contoh Positif

Latest

- Advertisement -spot_img

Amerika Serikat menyatakan ingin menjadi mitra kuat bagi Indonesia dalam mengoperasionalkan komitmen FOLU Net Sink 2030.

AS percaya bahwa Indonesia dapat menjadi contoh yang positif, menunjukkan bagaimana negara-negara dapat menyeimbangkan pembangunan ekonomi dan konservasi serta peningkatan ekosistem.

Demikian terungkap pada pertemuan Bilateral Climate Change Working Group 2 Task Force on Natural Capital and Ecosystem Services secara hybrid, Rabu malam, 3 Agustus 2022.

Pada pertemuan itu delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Sementara delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Robert Blake selaku Advisor to the US SPEC John Kerry.

 Menteri Siti Nurbaya menyatakan Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai aksi iklim secara sistematis berdasarkan konvensi internasional.

Lebih lanjut, Menteri Siti menjelaskan langkah-langkah perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di Indonesia telah dirancang dan dilaksanakan semakin menunjukkan perubahan yang signifikan di sektor lingkungan hidup dan kehutanan.

Yang terkini, dalam upaya memenuhi komitmen Paris Agreement, Indonesia meluncurkan “Indonesia’s FOLU Net Sink 2030”. Sebuah kondisi yang ingin dicapai melalui pengurangan emisi GRK dari sektor kehutanan dan lahan, dimana tingkat penyerapan sama atau lebih tinggi dari tingkat emisi.

Dalam rangka operasionalisasi FOLU Net Sink 2030 Indonesia, telah disusun Rencana Operasional yang rinci dan menjadi dasar pelaksanaan langkah-langkah penurunan emisi GRK.

“FOLU Net Sink 2030 Indonesia menunjukkan ambisi iklim kita melalui pendekatan yang lebih terstruktur dan sistematis. Ini memberikan target pembangunan yang terfokus dan terukur, dimana untuk pertama kalinya semua program kegiatan memiliki satuan ukuran yang sama, yaitu setara CO2,” terang Menteri Siti.

Menteri Siti mengatakan, Pemerintah Indonesia juga fokus pada potensi penghasil karbon lain yang mampu menyerap karbon setara atau bahkan lebih besar dari hutan terestrial, yaitu dari sektor pesisir dan ekosistem laut, atau karbon biru (blue carbon).

Pengembangan karbon biru sangat penting dan memiliki potensi yang signifikan di Indonesia, khususnya ekosistem mangrove.

Pengelolaan karbon biru yang lebih baik akan membawa banyak manfaat, antara lain peningkatan nilainya, di mana Pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon untuk mengaturnya.

 “Kami berharap kerjasama dengan Amerika Serikat dapat difokuskan untuk saling mendukung dalam menjaga ekosistem alam, serta menciptakan terobosan untuk mengoptimalkan penyerapan emisi karbon dengan tetap mempertimbangkan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Menteri Siti.

Pada kesempatan tersebut, Robert Blake mengatakan bahwa AS memandang Indonesia sebagai mitra strategis yang sangat kuat di berbagai bidang. Dalam hal ini, kerja sama iklim yang menjadi sangat penting, khususnya dalam transisi energi.

Pemerintah AS juga menyadari pentingnya hutan dan ekosistem karbon biru yang sangat membantu untuk mencapai tujuan iklim.

AS percaya bahwa Indonesia dapat menjadi contoh yang positif, menunjukkan bagaimana negara-negara dapat menyeimbangkan pembangunan ekonomi dan konservasi serta peningkatan ekosistem.

“Salah satu contohnya, tentu saja, adalah komitmen FOLU Indonesia yang kuat termasuk Rencana Operasi 2030 Net Sink, dan kemajuan yang telah Indonesia buat selama lima tahun terakhir untuk menurunkan laju deforestasi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Robert Blake menyampaikan AS ingin menjadi mitra kuat Indonesia untuk mengimplementasikan komitmen dan rencananya di bawah Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030. ***

More Articles