ADPIKI perkuat storytelling berbasis fakta di era AI

Latest

- Advertisement -spot_img

Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) memperkuat kemampuan bercerita atau storytelling berbasis fakta melalui Masterclass ADPIKI Batch 6 bertema “Storytelling pada Era Artificial Intelligence” pada Jumat (30/10/2026). Kegiatan tersebut membahas pentingnya pengamatan mendalam, empati, dan verifikasi dalam menghasilkan tulisan yang bermakna di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Wakil Ketua Umum ADPIKI Prof. Dr. M. Najieb menekankan pentingnya penguatan kompetensi dosen dan peneliti komunikasi dalam merespons perkembangan teknologi. Menurut dia, kemampuan mengolah informasi perlu disertai pemahaman terhadap konteks sosial serta tanggung jawab dalam menyampaikan fakta kepada masyarakat.

“Penguasaan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan berpikir kritis, memahami pengalaman manusia, dan menjaga integritas informasi. Storytelling menjadi salah satu keterampilan penting untuk menyampaikan pengetahuan secara lebih dekat kepada masyarakat,” kata Najieb.

Najieb menilai penguatan keterampilan menulis dapat membantu dosen dan peneliti mengomunikasikan hasil penelitian agar lebih mudah dipahami publik. Pemanfaatan AI perlu disertai ketelitian memeriksa informasi dan kemampuan menentukan sudut pandang yang relevan dengan kebutuhan pembaca.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung Prof. Dr. Septiawan Santana Kurnia dalam materi masterclass menekankan bahwa storytelling kesastraan memadukan kekuatan fakta dengan teknik pengisahan yang dapat membangun kedekatan pembaca dengan pengalaman manusia.

“Bukan fiksi atau kebohongan, melainkan pemaparan yang memiliki nyawa,” tulis Septiawan.

Menurut Septiawan, penulisan naratif perlu menghadirkan manusia sebagai subjek yang memiliki pengalaman, harapan, dan persoalan hidup. Dengan demikian, pembaca dapat memahami dimensi kemanusiaan di balik sebuah peristiwa, termasuk hubungan pengalaman individu dengan persoalan sosial yang lebih luas.

Ia memaparkan pendekatan pengamatan langsung, observasi partisipan, wawancara mendalam, serta pengalaman penulis sebagai saksi. Pendekatan tersebut digunakan untuk memperoleh detail yang dapat memperkaya cerita, dengan tetap bertumpu pada riset dan verifikasi.

Septiawan juga menyoroti pentingnya imersi, yakni keterlibatan mendalam penulis dalam memahami kehidupan narasumber. Kehadiran di lapangan dan waktu yang memadai memungkinkan penulis mengenali rutinitas, suasana, serta pengalaman yang tidak selalu muncul dalam wawancara singkat.

“Cara terbaik untuk menemukan laporan yang lebih menarik adalah dengan tidak sekadar melakukan wawancara, melainkan menghayatinya,” ujarnya.

Selain pengamatan, ia menjelaskan pentingnya suara khas penulis, penyusunan alur, dan pembangunan adegan. Detail latar, tindakan, serta dialog yang benar-benar terjadi dapat digunakan untuk menghidupkan tulisan tanpa mengubah fakta.

“Jangan memanipulasi fakta, tapi maknailah realitas tersebut,” tegas Septiawan.

Dalam pembahasan mengenai AI, Septiawan menempatkan pengalaman langsung dan kepekaan penulis sebagai kekuatan penting dalam storytelling. Kemampuan memahami konteks, menangkap ironi, serta membangun hubungan dengan narasumber menjadi bagian dari proses menghasilkan cerita yang autentik.

Melalui Masterclass Batch 6, ADPIKI menyediakan ruang pembelajaran untuk menghubungkan perkembangan teknologi dengan keterampilan menulis berbasis fakta. Penguatan riset, verifikasi, dan pengamatan lapangan diharapkan dapat membantu dosen serta peneliti menyampaikan pengetahuan secara menarik, mudah dipahami, dan dapat dipertanggungjawabkan (**).

- Advertisement -spot_img

More Articles