Pendaftaran Small Grant FOLU Net Sink 2030 Ditutup 13 Oktober, Genries Bisa Ajukan Ide Hijau

Latest

- Advertisement -spot_img

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) membuka peluang bagi generasi muda untuk menjalankan program pelestarian hutan dan lingkungan melalui Layanan Dana Masyarakat atau Small Grant FOLU Net Sink 2030. Skema hibah ini memungkinkan individu maupun kelompok masyarakat mengembangkan gagasan lingkungan menjadi aksi nyata dengan pengajuan secara daring.

Peluang tersebut disosialisasikan melalui kegiatan Youth Talk Take Action (YTTA) Seri 6 bertajuk “Grant Your Green Idea: Peluang Genries Mewujudkan Aksi Nyata Lewat Small Grant FOLU Net Sink 2030 Periode Kelima”. Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom itu diikuti lebih dari 600 generasi muda dari berbagai wilayah Indonesia.

Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Luckmi Purwandari, menegaskan bahwa pencapaian target FOLU Net Sink 2030 membutuhkan kontribusi nyata masyarakat, termasuk generasi muda. Menurutnya, kebijakan pemerintah perlu diikuti berbagai tindakan konkret yang dijalankan secara konsisten di berbagai daerah.

“Target FOLU Net Sink 2030 akan dicapai oleh jutaan tindakan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh di banyak tempat. Salah satunya bisa lahir dari ide yang hari ini kalian ciptakan,” ujar Luckmi.

Melalui program Small Grant, Kemenhut bersama BPDLH menyalurkan hibah bernilai kecil kepada individu atau kelompok masyarakat yang menjalankan kegiatan di bidang lingkungan dan kehutanan. Masyarakat dapat mengajukan proposal melalui laman layanan-dana-masyarakat.bpdlh.id tanpa harus datang langsung ke Jakarta.

Pengajuan program ini dibuka dua hingga tiga kali dalam setahun. Untuk Periode Kelima, pendaftaran berlangsung pada 6–13 Oktober 2026. Setelah masa pengajuan berakhir, penyelenggara melanjutkan proses verifikasi, validasi, dan penetapan penerima manfaat hingga 20 November 2026.

Direktur Penyaluran Dana BPDLH, Damayanti Ratunanda, menjelaskan bahwa layanan tersebut menyasar kelompok masyarakat yang telah memiliki kepedulian terhadap perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta kehutanan. Kelompok yang dapat memanfaatkan peluang ini antara lain Genries atau Generasi Pelestari Hutan, kelompok pemberdayaan masyarakat, sekolah Adiwiyata, dan kelompok tani hutan rakyat.

“Kelompok masyarakat yang sudah memiliki kesadaran terhadap perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan mendapatkan akses untuk melakukan aksi-aksi yang lebih besar dan berkelanjutan,” kata Damayanti.

Manfaat program ini terlihat dari hasil seleksi Periode Keempat. Enam Genries binaan Pusgenri berhasil menerima pendanaan, terdiri atas lima peserta Forest Youthverse Batch 2 dan satu peserta YTTA Seri 1. Mereka mengembangkan beragam inisiatif, mulai dari penanaman mangrove, pengolahan limbah menjadi biochar, pendirian sekolah konservasi, hingga pelatihan pengelolaan sampah di sekolah dasar.

Salah satu penerima manfaat tersebut adalah Mudassir, Koordinator Tim Adiwiyata SD Negeri 6 Banda Aceh sekaligus Genries Forest Youthverse 2025. Melalui program FOLU Goes to School, ia bersama timnya melatih 50 guru mengenai pengelolaan sampah dan pendidikan lingkungan untuk mendukung pengembangan Sekolah Adiwiyata.

Program tersebut melibatkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHK) Kota Banda Aceh, serta KamiKITA Community Center, dengan dukungan pendanaan BPDLH. Inisiatif ini berangkat dari persoalan sampah di Banda Aceh yang, berdasarkan data KLHK 2024 sebagaimana disampaikan dalam siaran pers, mencapai sekitar 250 ton per hari. Sebagian besar sampah tersebut berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) tanpa melalui pengolahan.

Mudassir menilai dukungan pendanaan tersebut dapat memperluas dampak pendidikan lingkungan melalui para pendidik di sekolah.

“Dukungan strategis dari Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan telah mengubah 50 pendidik menjadi katalisator aksi iklim. Ini bukan sekadar pelatihan pengelolaan sampah, melainkan investasi fundamental untuk melahirkan generasi yang menjaga masa depan,” ujar Mudassir.

Pusgenri menempatkan YTTA sebagai salah satu sarana pembinaan generasi muda agar terlibat langsung dalam upaya pelestarian hutan dan lingkungan. Sepanjang 2025–2026, lembaga tersebut telah membina lebih dari 9.300 Genries melalui empat program, yakni Bestari Rimba, Youth Talk Take Action, Forest Youthverse, dan Forest Youthpreneurship.

Luckmi mengajak generasi muda memanfaatkan kesempatan pendanaan tersebut untuk mengembangkan gagasan yang menjawab persoalan lingkungan di sekitar mereka.

“Jangan hanya menjadi penonton perubahan. Jadilah pelaku perubahan. Ubah ide hijau menjadi aksi nyata,” tegasnya.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles