Setiap negara, tanpa kecuali, membangun empat institusi utama yang menjadi penopang peradabannya: Perpustakaan Nasional, Museum Nasional, Galeri Nasional, dan Arsip Nasional. Keempat institusi ini bukan sekadar gedung penyimpanan, melainkan pusat memori kolektif bangsa—tempat sejarah, ilmu pengetahuan, seni, dan identitas nasional dirawat untuk generasi mendatang.
Di Indonesia, keempat institusi tersebut menempati posisi yang sangat terhormat. Tiga di antaranya berdiri mengelilingi Monumen Nasional (Monas) di jantung Jakarta: Museum Nasional atau “Gedung Gajah” di Jalan Medan Merdeka Barat, Perpustakaan Nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan, dan Galeri Nasional di Jalan Medan Merdeka Timur. Sementara itu, Arsip Nasional Republik Indonesia berada di kawasan Jakarta Selatan. Penataan ini mencerminkan betapa pentingnya peran institusi-institusi tersebut dalam menjaga keberlangsungan peradaban bangsa.
Hal serupa juga terlihat di Amerika Serikat. Di Washington, DC, empat institusi setara—Smithsonian Institution (museum), Library of Congress (perpustakaan), National Gallery (galeri seni), dan National Archives (arsip nasional) —berada di kawasan strategis yang dikenal sebagai The National Mall. Lokasinya berdekatan dengan Gedung Putih, US Capitol, serta monumen-monumen ikonik seperti Washington Monument, Jefferson Memorial, dan Lincoln Memorial. Kawasan ini bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga pusat pengetahuan dan kebudayaan.
Pada Jumat, 9 Oktober 2026, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, berkunjung ke Library of Congress. Didampingi Atase Pendidikan dan Kebudayaan serta jajaran KBRI Washington DC, Dubes RI diterima oleh Dr.Kay Qui, Chief Asian Division, US Library of Congress, Dr. Sarah Rhodes dari Congressional and Intergovernmental Office dan pustakawan, Mr. Joshua.
US Library of Congress sendiri dikenal sebagai perpustakaan terbesar di dunia, dengan lebih dari 170 juta koleksi. Koleksi tersebut mencakup sekitar 39 juta buku dan bahan cetak dalam 470 bahasa, 73 juta manuskrip, jutaan foto, peta, rekaman musik, dan arsip suara. Rak-raknya membentang hingga sekitar 1.380 kilometer, dengan pertambahan koleksi sekitar 2 juta item setiap tahun. Tidak hanya besar, gedungnya juga dikenal sebagai salah satu yang paling indah di dunia, dengan dominasi marmer dan ornamen artistik karya seniman ternama Amerika.
Menariknya, dari ratusan juta koleksi tersebut, ada 183.568 berasal dari Indonesia. Koleksi ini mencakup manuskrip kuno, 749 buku langka, rekaman audio-visual, hingga artefak teknologi perekaman suara. Data tahun 2021 menunjukkan bahwa lebih dari 117.000 koleksi Indonesia telah dikatalogkan dalam bagian koleksi Asia, mencakup berbagai bidang seperti ekonomi, politik, sejarah, ilmu pengetahuan, hingga sastra anak.
Jejak Indonesia juga terlihat dari koleksi tentang para pemimpin nasional. Terdapat lebih dari 1.100 buku tentang Presiden Soekarno, 918 buku tentang Presiden Soeharto, serta puluhan karya mengenai Presiden B.J. Habibie. Selain itu, American Folklife Center menyimpan berbagai rekaman dan dokumentasi Indonesia sejak tahun 1893 hingga 2009.
Salah satu koleksi paling berharga adalah manuskrip Jawa beriluminasi tahun 1862 berjudul “Pangkat-pangkat caritanipun serat babad ing Tanah Jawi sedhaya.” Naskah ini mengisahkan sejarah Jawa dan penyebaran Islam, dihiasi ilustrasi artistik yang memperkaya nilai historis dan estetisnya.
Dalam kunjungan tersebut, Dubes Indroyono Soesilo menyerahkan 5 buku karya Presiden Prabowo Subianto, termasuk buku-buku berjudul:”Kepemimpinan Militer” dan “Paradox Indonesia”. Dengan demikian, karya karya Presiden Prabowo Subianto dan tentang Prabowo Subianto, sebanyak 90 judul, saat ini telah tersimpan di US Library of Congress, Washington DC. Dalam kesempatan tersebut, telah diserahkan pula buku buku karya: Fadli Zon, Nyoman Nuarta, Purnomo Yusgiantoro, Nining Sri Astuti, Havas Oegroseno dan Indroyono Soesilo.
Kehadiran koleksi Indonesia di US Library of Congress bukan sekadar angka, melainkan cerminan eksistensi bangsa dalam lanskap pengetahuan dunia. Di antara jutaan rak dan lembaran sejarah global, Indonesia turut berbicara—melalui buku, manuskrip, dan warisan intelektualnya.
Di sinilah pentingnya empat institusi peradaban tadi menjadi nyata. Mereka bukan hanya penjaga masa lalu, tetapi juga jembatan menuju masa depan—tempat di mana identitas bangsa dirawat, dipelajari, dan diperkenalkan kepada dunia.
Dubes RI, Indroyono Soesilo menyerahkan salah satu buku karya Presiden Prabowo Subianto, berjudul:”Paradox Indonesia”, kepada Dr.Kay Qui, Chief Asian Division, US Library of Congress, Jumat 9 Oktober 2026 (Foto: Arya Winata / KBRI-DC)



