Di New York, Selasa, 22 September 2026, sebuah acara santap pagi membawa pesan besar bagi Indonesia: jangan biarkan badak Jawa dan badak Sumatra hilang dari muka bumi. Bertajuk “A Breakfast for Indonesia’s Rhino”, kegiatan yang digelar Edge Group Conservation dan Re:Wild ini mempertemukan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, CEO Edge Group Conservation Nialli McCann, Executive Vice President Re:Wild, Penny Langhammer, CEO Space Intelligence, Murray Collins, mantan Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert Blake, pejabat Kementerian Kehutanan RI, para konservasionis, serta para mitra.
Pesannya sederhana, tetapi mendesak: Indonesia adalah rumah terakhir bagi dua badak paling langka di dunia. Namun, kebanggaan itu sekaligus membawa tanggung jawab yang sangat besar. Saat ini, badak Jawa, atau Rhinoceros sondaicus, hanya bertahan di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Jumlahnya diperkirakan sekitar 50 ekor. Seluruh populasi badak Jawa yang tersisa hidup dalam satu kawasan yang sama. Karena itu, kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada perlindungan habitat, pengawasan yang kuat, pencegahan penyakit, pemantauan ilmiah, serta perencanaan jangka panjang untuk mengurangi risiko kepunahan akibat populasi yang hanya berada di satu lokasi.
Situasi badak Sumatra, atau Dicerorhinus sumatrensis, juga tidak kalah mendesak. Populasinya diperkirakan hanya sekitar 34 hingga 47 ekor saja. Badak Sumatra, menghadapi masalah yang berbeda: mereka hidup dalam, setidaknya, dua wilayah besar yang terpisah, yakni Sumatra dan Kalimantan. Di Sumatra, kantong habitat penting berada di Lanskap Pegunungan Leuser di Aceh, Taman Nasional Way Kambas di Lampung, serta Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Di Kalimantan, masih terdapat populasi kecil di wilayah Kalimantan Timur. Populasi yang terpecah membuat badak sulit bertemu pasangan dan berkembang biak. Badak Sumatra hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah di beberapa wilayah Indonesia. Tantangannya bukan hanya menjaga hutan yang tersisa, tetapi juga memastikan badak dapat berkembang biak, memperoleh ruang hidup yang aman, dan terhubung dengan upaya penyelamatan serta pengembangbiakan yang dikelola secara baik.
Kedua spesies ini berstatus kritis, atau berada pada tingkat ancaman kepunahan yang sangat tinggi. Karena itu, perlindungan badak Jawa dan badak Sumatra bukan hanya menjadi prioritas Indonesia, tetapi juga menjadi tanggung jawab dunia. Nilai penting upaya ini juga tercermin dalam pengakuan UNESCO. Taman Nasional Ujung Kulon, rumah terakhir badak Jawa, merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Sementara itu, sejumlah bentang hutan penting bagi badak Sumatra berada dalam kawasan Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra, yang juga telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Inilah alasan kerjasama Indonesia dengan Re:Wild dan Edge Group Conservation penting. Edge Group Conservation menempatkan badak Jawa sebagai fokus awal untuk membangun sistem pencegahan kepunahan yang lebih kuat. Re:Wild bekerja bersama mitra Indonesia untuk melindungi badak Jawa, memperkuat kemungkinan populasi kedua, serta membantu penyelamatan dan pengembangbiakan badak Sumatra yang populasinya terisolasi.
Komitmen Indonesia juga diperkuat melalui Keputusan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2026, yang membentuk Satgas Inovasi Pembiayaan Pengelolaan Taman Nasional. Satgas ini diarahkan menyiapkan strategi pembiayaan konservasi 2026–2030. Pemerintah telah menetapkan 13 taman nasional sebagai proyek percontohan pengembangan kawasan konservasi berstandar internasional, termasuk Taman Nasional Ujung Kulon.
Harapannya jelas: generasi mendatang tidak hanya melihat badak Indonesia dalam foto, museum, atau buku sejarah. Mereka harus tetap dapat menyaksikan badak berjalan bebas di hutan Indonesia—sebagai bukti bahwa bangsa ini mampu menjaga warisan alamnya, untuk dunia.
***



