Upacara peringatan mengenang gugurnya awak kapal penjelajah AL Amerika USS Houston dan AL Australia HMAS Perth di Makam Pahlawan Arlington National Cemetery, Washington DC AS, pada 18 Mei 2026 lalu, menjadi momen hening yang sarat makna lintas bangsa, termasuk bagi Indonesia.
Di bawah langit musim semi Washington DC, keluarga pewaris pelaut, veteran, dan diplomat—berkumpul dalam sebuah seremoni awal Memorial Day untuk mengenang pertempuran di Selat Sunda, pada 1 Maret 1942.
Di antara para tamu kehormatan hadir Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang kehadirannya menegaskan bahwa laut di lepas pantai, 20 kilometer dari Banten, Jawa Barat itu bukan sekedar lokasi pertempuran laut dahsyat, tetapi juga makam bersama para prajurit dari Amerika Serikat, Belanda, Australia, Inggris dan Jepang.
Upacara diawali dengan doa, kemudian mengenang sejarah pertempuran Laut Jawa 1942 dan Sambutan Duta Besar RI, dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Siswa SMA Philadelphia dan ditutup dengan sangkakala terompet penghormatan kepada para pahlawan.
Keheningan menyelimuti area pemakaman saat karangan bunga diletakkan untuk menghormati pengorbanan para pelaut yang bertempur di Selat Sunda ini. Dalam sambutannya, Dubes Indroyono menekankan pentingnya menjaga memori sejarah ini sebagai dasar persahabatan modern Indonesia–Amerika Serikat, sekaligus mengingatkan bahwa Indonesia turut melindungi dan menjaga lokasi tenggelamnya USS Houston dan HMAS Perth, sebagai situs makam perang di perairan Nusantara ini.
Dikisahkan, pada 28 Februari 1942, malam hari, secara tak terduga, kapal perang AL Amerika Serikat, USS Houston  bertemu dengan armada AL Jepang di laut Jawa, dekat Selat Sunda.  USS Houston, bersama kapal penjelajah ringan AL Australia, HMAS Perth, terlibat baku tembak dengan tiga kapal penjelajah Jepang bersama sebuah kapal perusak, Fubuki. Â
Armada AL Jepang menembakkan total 87 torpedo pada kedua kapal Sekutu tadi, diikuti oleh hujan tembakan senapan mesin. Kedua kapal Sekutu tadi tenggelam dalam waktu singkat. Â 693 awak USS Houston gugur dan ikut tenggelam ke dasar Selat Sunda. Armada AL Jepang juga harus kehilangan sebuah kapal penyapu ranjau dan sebuah kapal angkut yang sarat pasukan, terkena tembakan torpedo sekutu dan tenggelam.
Inilah yang dikenang pada Upacara Memorial Day di Makam Pahlawan Arlington National Cemetery. Â Bagi publik Amerika, acara ini menghubungkan Memorial Day dengan sebuah titik jauh di peta, yaitu perairan Jawa dan Selat Sunda.
Bagi Indonesia, kehadiran di Arlington adalah pengakuan bahwa sejarah Indonesia bukan hanya cerita darat, tetapi juga kisah laut yang mengikat bangsa-bangsa. Upacara 18 Mei 2026 itu menunjukkan bahwa ingatan kolektif bisa melintasi samudra—dari Selat Sunda, ke kota Houston, hingga deretan nisan putih di Arlington.
***



