Bank Indonesia bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan Kalkulator Hijau versi 2 sebagai instrumen nasional penghitungan emisi gas rumah kaca (GRK) untuk memperkuat transisi menuju ekonomi rendah karbon. Peluncuran yang berlangsung di Jakarta, Senin (11/5), itu menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola ekonomi hijau berbasis data, metodologi ilmiah, dan standar internasional.
Pengembangan Kalkulator Hijau v.2 melibatkan kolaborasi lintas lembaga yang terdiri atas kementerian, otoritas keuangan, dan institusi riset nasional. Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, turut terlibat sebagai anggota Kelompok Kerja Pengarah Kalkulator Hijau.
Nugroho menjelaskan, instrumen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis penghitungan emisi, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam pembangunan sistem ekonomi hijau nasional.
“Kalkulator Hijau merupakan bagian dari infrastruktur strategis nasional dalam membangun sistem ekonomi dan industri rendah karbon yang berbasis data, sains, dan tata kelola yang kredibel,” ujar Nugroho.
Dalam pengembangannya, BRIN memastikan metodologi penghitungan emisi yang digunakan telah mengacu pada berbagai standar internasional, di antaranya Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), GHG Protocol, ISO 14064-1:2018, serta Partnership for Carbon Accounting Financials (PCAF).
Kalkulator Hijau v.2 dirancang untuk menghitung emisi secara menyeluruh mulai dari Scope 1, Scope 2, Scope 3 hingga pengurangan emisi atau Scope 4. Sistem ini juga mencakup sektor energi baru terbarukan, kendaraan listrik, serta mekanisme carbon offset.
Menurut Nugroho, keberadaan sistem penghitungan emisi yang terstandardisasi menjadi faktor penting dalam mendukung daya saing industri nasional di tengah meningkatnya tuntutan pelaporan keberlanjutan global. Selain itu, instrumen tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha dan lembaga keuangan melakukan penghitungan emisi secara lebih mudah dan terstruktur.
“Pelaku usaha dan lembaga keuangan dapat melakukan penghitungan emisi secara lebih sederhana, terstruktur, dan terstandar,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan metodologi berbasis sains dalam Kalkulator Hijau v.2 juga akan mendukung pengembangan kajian Life Cycle Assessment (LCA) serta memperkuat implementasi pembiayaan berkelanjutan di Indonesia.
Peluncuran instrumen tersebut turut mendapat apresiasi dari Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung. Keduanya menilai Kalkulator Hijau v.2 menjadi langkah strategis dalam memperkuat tata kelola ekonomi hijau nasional sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi industri Indonesia.
***



