Rabu, 25 Maret 2026

Hari Hutan dan Air Sedunia 2026, FAO Soroti Ancaman Deforestasi dan Krisis Air

Latest

- Advertisement -spot_img

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingati Hari Hutan Internasional 2026 dan Hari Air Sedunia 2026 melalui serangkaian kegiatan tingkat tinggi yang digelar di Roma. Peringatan yang berlangsung pada 21 dan 22 Maret ini menegaskan keterkaitan erat antara hutan dan air dalam mendukung ekonomi global, sistem pangan, serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Food and Agriculture Organization (FAO) menyelenggarakan berbagai forum yang melibatkan negara anggota, pakar teknis, mitra pembangunan, dan masyarakat sipil. Kegiatan tersebut mencakup diskusi ilmiah, forum kebijakan, hingga pameran yang menyoroti hubungan antara hutan, air, ekonomi, dan ketahanan pangan.

Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, dalam pesan pembuka menekankan bahwa hutan dan air merupakan dua sumber daya yang tidak terpisahkan.

“Hutan membutuhkan air, air membutuhkan hutan, dan manusia bergantung pada keduanya. Keterkaitan ini menjadi fondasi utama sistem pangan global,” ujarnya.

Tema Hari Hutan Internasional tahun ini, “Forests and Economies”, menyoroti kontribusi signifikan hutan terhadap perekonomian dunia. Hutan disebut menyumbang nilai ekonomi hingga triliunan dolar setiap tahun dan menjadi sumber penghidupan bagi miliaran orang melalui produk kayu maupun non-kayu.

Selain itu, hutan berperan penting sebagai infrastruktur alami yang menjaga kualitas air, mengurangi erosi, serta memitigasi banjir. Lebih dari separuh Produk Domestik Bruto global disebut bergantung pada alam, termasuk ekosistem hutan.

FAO juga mengingatkan bahwa permintaan terhadap produk hutan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan kebutuhan akan bahan ramah lingkungan. Kondisi ini menuntut pengelolaan hutan secara berkelanjutan untuk mencegah deforestasi dan menjaga keanekaragaman hayati.

“Hilangnya hutan akan berdampak langsung pada degradasi tanah, peningkatan risiko banjir, serta penurunan produktivitas jangka panjang,” kata Qu Dongyu.

Sementara itu, peringatan Hari Air Sedunia 2026 mengangkat tema “Water and Gender” yang menyoroti ketimpangan akses air bersih, khususnya bagi perempuan dan anak perempuan di wilayah pedesaan. FAO mencatat sekitar 2,1 miliar penduduk dunia masih belum memiliki akses terhadap air yang aman.

Kondisi tersebut diperparah oleh perubahan iklim yang meningkatkan kelangkaan air dan beban kerja perempuan dalam memenuhi kebutuhan domestik maupun ekonomi.

FAO menilai bahwa peningkatan kesetaraan gender dalam pengelolaan air menjadi kunci dalam membangun sistem pangan yang inklusif dan tangguh.

“Pengelolaan air dan hutan yang berkelanjutan serta adil sangat penting untuk menciptakan sistem pangan yang efisien, inklusif, dan berketahanan,” tegas Qu Dongyu.

Dalam rangkaian kegiatan, FAO juga menghadirkan berbagai sesi teknis, pemutaran siaran langsung peringatan global dari New York, serta pameran tematik. Acara tersebut turut dihadiri musisi Italia Elisa yang menyampaikan pentingnya meningkatkan kesadaran publik terhadap keterkaitan hutan dan air.

“Kita semua bergantung pada hutan dan air. Semakin kita memahami hubungan ini, semakin besar kepedulian kita terhadap bumi,” ujarnya.

Melalui peringatan ini, FAO mendorong negara-negara untuk memperkuat investasi dalam konservasi hutan, pemulihan lanskap, serta pengelolaan air yang berkelanjutan guna menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung kesejahteraan masyarakat global.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles