Rabu, 25 Maret 2026

Kerusakan Ekosistem Meningkat, Pakar IPB Tekankan Etika Lingkungan dalam Islam

Latest

- Advertisement -spot_img

Kerusakan ekosistem yang semakin sering memicu bencana alam di berbagai wilayah dinilai tidak terlepas dari perilaku manusia yang memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan. Seorang pakar kehutanan dari IPB University menekankan bahwa pengelolaan hutan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan nilai-nilai etika dan keseimbangan lingkungan.

Pakar Kehutanan IPB University Ahmad Budiaman menyampaikan hal tersebut dalam kajian pagi bertema pemanenan hutan lestari dalam perspektif Islam yang berlangsung di Masjid Al Hurriyyah, Kampus IPB, Bogor, Kamis (5/3/2026).

Menurut Ahmad Budiaman, ajaran Islam telah memberikan pedoman yang jelas mengenai tanggung jawab manusia dalam menjaga alam. Ia menilai berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi dari perilaku manusia yang mengeksploitasi alam tanpa memperhatikan batas keseimbangan.

“Al-Qur’an secara tegas mengingatkan dalam surah Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena ulah tangan manusia sendiri. Allah tidak menyukai tindakan yang merusak dan bertentangan dengan prinsip keseimbangan,” ujar Ahmad Budiaman.

Ia menjelaskan bahwa konsep dasar dalam pengelolaan sumber daya alam menurut Islam adalah prinsip kecukupan, yaitu mengambil manfaat dari alam sesuai kebutuhan tanpa melakukan eksploitasi berlebihan. Prinsip ini menjadi landasan moral dalam praktik pemanenan hutan yang berkelanjutan.

Selain itu, Ahmad Budiaman menekankan pentingnya penerapan prinsip selektivitas dalam penebangan pohon. Dalam berbagai ajaran Islam, menurutnya, terdapat peringatan agar manusia tidak menebang pohon secara sembarangan karena setiap pohon memiliki peran ekologis yang penting bagi kehidupan makhluk lain.

Ia mencontohkan ajaran Nabi Muhammad SAW yang melarang penebangan pohon secara zalim, termasuk terhadap pohon bidara yang memiliki manfaat bagi lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya. Bahkan dalam situasi peperangan, Rasulullah tetap memberikan batasan tegas agar pasukan tidak merusak kebun kurma maupun menebang pohon tanpa alasan mendesak.

“Larangan tersebut menunjukkan bahwa alam harus dihormati dan pemanfaatannya tidak boleh dilakukan secara serampangan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberlanjutan hutan merupakan amanah lintas generasi yang harus dijaga oleh manusia. Oleh karena itu, Islam tidak hanya mengatur etika dalam memanfaatkan sumber daya alam, tetapi juga mendorong upaya pemulihan lingkungan setelah pemanfaatan dilakukan.

“Islam sangat menghargai upaya penanaman kembali. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan, jika hari kiamat terjadi sementara di tangan seseorang ada bibit tanaman, maka hendaklah ia tetap menanamnya,” ujar Ahmad Budiaman.

Menurutnya, setiap pohon yang ditanam dan memberikan manfaat bagi makhluk hidup lain akan bernilai sebagai sedekah. Karena itu, praktik pemanenan hutan seharusnya diimbangi dengan kegiatan reboisasi sebagai bentuk tanggung jawab ekologis manusia terhadap alam.

Ia menambahkan bahwa menjaga hutan bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral dan spiritual bagi umat manusia. Dengan menerapkan prinsip keseimbangan, pemanfaatan secukupnya, serta pemulihan ekosistem, keberadaan hutan diharapkan tetap terjaga dan dapat memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun masa depan.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles