60 Generasi Muda Sumut Bergerak, Rancang Solusi untuk Lindungi Hutan dan Biodiversitas

Latest

- Advertisement -spot_img

Sebanyak 60 generasi muda di Sumatera Utara mengembangkan sejumlah gagasan untuk menjawab persoalan perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati. Mereka mengusulkan pemanfaatan teknologi digital, sistem pemantauan, edukasi, hingga pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan hutan dan biodiversitas.

Gagasan tersebut lahir dalam Forest Youthverse Resilience Summit (FYVR) Wilayah Sumatera Utara yang digelar Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM), bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera.

Mengangkat tema “Youth for Biodiversity Resilience: Generasi Muda Bergerak, Kekayaan Alam Terjaga”, kegiatan tersebut memberikan ruang bagi para peserta yang disebut Genries untuk merancang solusi terhadap sejumlah persoalan lingkungan di Sumatera Utara.

Isu yang mereka angkat mencakup pencegahan kebakaran hutan dan lahan, penyelamatan satwa, pengenalan flora, pengelolaan sampah di kawasan konservasi, hingga pengembangan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan.

Pada isu pencegahan kebakaran, peserta mengembangkan SIGAP API, sebuah gerakan berbasis media sosial yang menggabungkan edukasi dan advokasi digital dengan akses masyarakat menuju kanal pengaduan resmi terkait karhutla.

Gagasan lainnya, Fire Memory, mengusulkan dokumentasi perubahan suatu kawasan sejak mengalami kebakaran hingga memasuki tahap pemulihan. Dokumentasi tersebut dapat digunakan untuk memantau proses rehabilitasi sekaligus menjadi bahan pembelajaran.

Sementara itu, Fire Wind Tracker menawarkan sistem pemantauan angin mikro yang dapat dibawa saat patroli. Sistem tersebut diarahkan untuk membantu petugas meningkatkan keselamatan dan mengambil keputusan ketika menghadapi kebakaran.

Para Genries juga mengembangkan inovasi di bidang konservasi satwa dan flora. Rimba Explorer, misalnya, mengusulkan digitalisasi informasi tumbuhan melalui teknologi smart tagging agar pengunjung dapat mengenali jenis flora ketika menjelajahi kawasan.

Untuk satwa, peserta menggagas Sibolangit Wildlife Rescue Track yang memungkinkan masyarakat mengikuti perjalanan satwa sejak proses penyelamatan, rehabilitasi, hingga pelepasliaran kembali ke habitatnya.

Mereka juga memperkenalkan Elephas Goes to School sebagai pendekatan edukasi mengenai satwa dan hutan kepada generasi muda. Program tersebut memanfaatkan materi pembelajaran, simulasi, dan permainan edukatif untuk memperkenalkan isu konservasi secara lebih dekat.

Persoalan sampah di kawasan konservasi turut masuk dalam rancangan inovasi. Melalui TWA FlowGuard, peserta menawarkan pemasangan perangkap sampah sederhana pada jalur aliran air untuk mencegah sampah terbawa lebih jauh ke kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit.

Di kawasan perkotaan, gagasan Hutan Kota & RTH Medan diarahkan untuk memperkuat pengelolaan ruang terbuka hijau melalui pemetaan, penanaman pohon peneduh, program adopsi pohon, kegiatan bersih lingkungan, serta edukasi mengenai hutan kota.

Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Luckmi Purwandari, mengatakan generasi muda membutuhkan ruang untuk mengembangkan gagasan sekaligus menguji solusi yang mereka tawarkan terhadap persoalan lingkungan.

“Generasi muda punya cara pandang baru dan keberanian untuk mencoba. Kegiatan seperti ini penting karena memberi ruang bagi mereka untuk belajar langsung, lalu mengubah pengalaman itu menjadi gagasan dan aksi nyata,” ujar Luckmi.

Menurut dia, keterlibatan generasi muda juga dapat memperkuat upaya menghadapi berbagai ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan.

“Inovasi dari anak muda akan menjadi bagian penting dalam menjaga keanekaragaman hayati kita dari berbagai potensi bencana dan kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Dukungan terhadap pengembangan kapasitas generasi muda juga datang dari perguruan tinggi. Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Arida Susilowati, mengatakan kampus dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperdalam pengetahuan sekaligus mengembangkan gagasan konservasi.

“Kami menyambut hangat kolaborasi dengan Pusgenri. Kampus siap menjadi ruang bertumbuh bagi generasi muda,” ujar Arida.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat keberadaan generasi pelestari hutan di Sumatera Utara yang memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk terlibat langsung dalam upaya konservasi.

“Kami berharap kegiatan ini mendorong lahirnya generasi pelestari hutan di Sumatera Utara yang peduli, berpengetahuan, dan siap bertindak,” katanya.

Pengembangan inovasi dalam FYVR tidak berhenti pada tahap perumusan gagasan. Para peserta diharapkan dapat menyempurnakan konsep, mengujinya, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, unit pelaksana teknis Kementerian Kehutanan, komunitas, dan mitra pembangunan.

Kolaborasi lintas pihak menjadi penting agar gagasan yang muncul dari forum tersebut dapat berkembang menjadi program yang dapat diterapkan di lapangan. Dengan pendekatan tersebut, keterlibatan generasi muda tidak hanya menghasilkan ide, tetapi juga membuka peluang bagi lahirnya aksi konservasi yang berkelanjutan.

Pusgenri berharap jejaring yang terbentuk melalui FYVR dapat menjadi fondasi pembinaan Genries di Sumatera Utara. Inovasi yang mereka kembangkan diharapkan terus tumbuh melalui pendampingan dan kerja sama sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles