Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Indonesia mencapai 160 titik berdasarkan pemantauan hingga Jumat (30/10/2026) pukul 21.00 WIB. Angka tersebut bertambah enam titik dibandingkan sehari sebelumnya. Kalimantan Tengah masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan karena petugas terus memadamkan kebakaran bawah permukaan di sejumlah kawasan gambut, termasuk Taman Nasional Sebangau dan Taman Nasional Tanjung Puting.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 13 hotspot di enam provinsi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebanyak 12 titik berada di Kalimantan Tengah dan satu titik di Kalimantan Selatan. Sementara itu, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Riau tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Jumlah hotspot di Kalimantan Tengah turun dari 17 menjadi 12 titik. Namun, penurunan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi kebakaran di lapangan. Kementerian Kehutanan tetap melakukan verifikasi melalui patroli dan pengecekan langsung (groundcheck) karena hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan, bukan penghitungan langsung jumlah kebakaran atau luas lahan terbakar.
Laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa petugas masih melakukan pemadaman di kawasan Taman Nasional Sebangau, tepatnya di Sungai Koran dan sekitar Tjilik Riwut Kilometer 32, Palangka Raya. Kedua lokasi tersebut berada di lahan gambut dan masih membutuhkan penanganan lanjutan.
Di Kabupaten Pulang Pisau, Manggala Agni Kementerian Kehutanan melanjutkan pembasahan dan patroli di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa. Petugas juga menangani kebakaran di Jabiren, Sei Hambawang, Sakakajang, dan Tanjung Taruna. Sejumlah lokasi masih mengeluarkan asap dan menyisakan titik bara meskipun hujan sempat turun.
Kondisi serupa terjadi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat. Kebakaran di wilayah Sei Sekonyer–Tanjung Harapan masih berlangsung pada lahan gambut dengan karakter kebakaran bawah permukaan. Petugas belum dapat menyatakan api sepenuhnya padam sehingga operasi tetap berlanjut.
Sementara itu, kondisi di Kalimantan Selatan menunjukkan perkembangan positif. Petugas telah memadamkan api di Nusa Indah, Kabupaten Tanah Laut, Batulicin, Tirawan, dan Tanjung Dewa. Namun, tim masih menemukan asap di beberapa titik Landasan Ulin Barat, Banjarbaru. Pemadaman di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Kura juga menghadapi kendala medan terjal yang menyulitkan petugas menjangkau seluruh titik api.
Di Sumatera Selatan, petugas telah menyatakan kebakaran di Talang Rimba, Kabupaten Ogan Komering Ilir, padam. Di Jambi, api di Desa Tanjung, Kabupaten Muaro Jambi, juga berhasil dipadamkan. Meski demikian, tim masih memantau sisa asap tipis di Simpang Datuk, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa kebakaran di lahan gambut membutuhkan penanganan khusus karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut memungkinkan api kembali muncul meskipun hujan turun atau nyala api tidak lagi terlihat. Oleh karena itu, petugas terus melakukan pembasahan, penyisiran bara, pemadaman lanjutan (mopping up), dan pendinginan untuk memastikan tidak ada sumber api yang tersisa.
Untuk memperkuat penanganan karhutla, pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara. Armada tersebut terdiri atas 24 pesawat yang mendukung patroli, CASA, dan Operasi Modifikasi Cuaca serta 37 helikopter untuk pemadaman melalui pengeboman air (water bombing). Operasi udara berjalan beriringan dengan pemadaman darat sesuai kebutuhan dan kondisi cuaca di setiap wilayah.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan juga berkoordinasi dengan BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan relawan. Seluruh unsur tersebut menjalankan patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, hingga pendinginan.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada perubahan angka hotspot. Petugas harus memastikan api dan bara benar-benar padam, mencegah kebakaran berulang, serta melindungi masyarakat, kawasan hutan, dan keanekaragaman hayati.
***



