Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis Universitas Mulawarman (UNMUL) mendorong penguatan Multi Usaha Kehutanan (MUK) sebagai strategi transformasi industri kehutanan di Kalimantan Timur. Dorongan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Ketua Umum APHI Soewarso dan jajaran Fakultas Kehutanan UNMUL di Samarinda, Selasa (11/02/2026), yang membahas tantangan serta peluang pengelolaan hutan di daerah. Hadir dalam pertemuan ini Sekretaris Jenderal APHI Purwadi Soeprihanto, Wakil Komite Bidang Humas dan Kerjasama APHI Trisia Megawati, dan perwakilan KOMDA KALTIM.
Berdasarkan data, Kalimantan Timur saat ini memiliki 108 unit Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dengan luas areal sekitar 4,97 juta hektare, dengan tren produksi hutan alam yang cenderung menurun dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai memerlukan pendekatan baru dalam pengelolaan usaha kehutanan.
Ketua Umum APHI Soewarso mengatakan transformasi menuju Multi Usaha Kehutanan menjadi langkah strategis agar pelaku usaha tidak hanya bergantung pada hasil hutan kayu. “Pendekatan Multi Usaha Kehutanan memungkinkan integrasi pemanfaatan kayu, hasil hutan bukan kayu, dan jasa lingkungan dalam satu model bisnis lanskap yang berkelanjutan. Ini penting untuk menjaga daya saing industri kehutanan,” kata Soewarso.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan MUK juga dapat membantu meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat sekitar hutan sekaligus mengurangi potensi konflik pemanfaatan lahan. Menurut dia, dukungan perguruan tinggi sangat dibutuhkan dalam memperkuat fondasi ilmiah dan teknis pengembangan MUK, termasuk riset silvikultur hutan alam, pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK), serta pemanfaatan jasa lingkungan dan nilai ekonomi karbon.
“Kolaborasi dengan UNMUL penting untuk memperkuat riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Mahasiswa kehutanan perlu dibekali pemahaman praktis tentang model bisnis kehutanan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis UNMUL menyatakan kesiapan pihaknya untuk mendukung pengembangan Multi Usaha Kehutanan melalui penguatan kurikulum, penelitian kolaboratif, dan program magang mahasiswa di lapangan.
“Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mendekatkan dunia akademik dengan kebutuhan industri. Kami ingin memastikan lulusan kehutanan memiliki kompetensi yang relevan dengan transformasi sektor kehutanan,” katanya. Ia menambahkan bahwa kampus memiliki peran penting dalam mengembangkan kajian sistem dan teknik silvikultur, pengelolaan lanskap, serta pendekatan penyelesaian persoalan tenurial secara kolaboratif.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas pengembangan model lanskap melalui kolaborasi pemegang PBPH dan pemegang persetujuan Perhutanan Sosial, optimalisasi pemanfaatan HHBK, serta penguatan pemanfaatan jasa lingkungan dan skema nilai ekonomi karbon.
APHI dan UNMUL sepakat menindaklanjuti pertemuan melalui penyusunan program kerja bersama di bidang penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat guna mendukung implementasi Multi Usaha Kehutanan di Kalimantan Timur. Melalui sinergi tersebut, kedua pihak berharap transformasi menuju MUK dapat memperkuat keberlanjutan usaha kehutanan sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi daerah dan pengelolaan hutan yang Lestari.
***



