Kamis, 12 Februari 2026

Kerja Sama CIRAD–Kemenhut Difokuskan pada Hutan Lestari dan Iklim

Latest

- Advertisement -spot_img

Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, menerima audiensi Chief Executive Officer French Agricultural Research for International Development (CIRAD), Elisabeth Claverie de Saint-Martin, di Jakarta pada Selasa (3/2/2026). Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama kehutanan berbasis sains sebagai tindak lanjut Declaration of Intent (DoI) on Sustainable Forestry yang ditandatangani Indonesia dan Prancis pada 28 Mei 2025.

Kerja sama yang dibahas mencakup pengelolaan hutan lestari, pengembangan perkebunan berkelanjutan bebas deforestasi, perlindungan dan konservasi keanekaragaman hayati, restorasi ekosistem hutan dan lanskap terdegradasi, sistem pemantauan hutan serta pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan.

Selain itu, ruang lingkup kolaborasi juga meliputi penguatan perhutanan sosial, mata pencaharian masyarakat, ekowisata, bioekonomi sirkular, peran hutan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta pengembangan posisi bersama di forum internasional kehutanan dan perubahan iklim.

Raja Juli Antoni menyampaikan dukungannya terhadap penguatan kerja sama teknis antara Kementerian Kehutanan dan CIRAD. Ia menilai fokus kerja sama tersebut sejalan dengan mandat kementerian, khususnya di bidang konservasi, perhutanan sosial, dan perubahan iklim.

“Program Perhutanan Sosial dapat menjadi titik awal yang baik untuk membangun kerja sama antara CIRAD dan Kementerian Kehutanan. Kita dapat memulainya dengan membentuk joint working group, terutama pada Perhutanan Sosial dan konservasi,” ujar Raja Juli Antoni.

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini akses kelola kawasan hutan melalui Perhutanan Sosial telah mencapai sekitar 8,33 juta hektare, dengan 1,4 juta penerima surat keputusan serta terbentuknya 16.754 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).

Menurutnya, kolaborasi dengan lembaga riset internasional seperti CIRAD diharapkan dapat memperkaya pendekatan teknis dan metodologis, termasuk melalui pelatihan, lokakarya, maupun kegiatan percontohan berskala terbatas.

CEO CIRAD, Elisabeth Claverie de Saint-Martin, menilai hutan tropis Indonesia memiliki nilai strategis yang tinggi, baik dari sisi konservasi maupun pengembangan sistem pertanian berkelanjutan. Ia menyoroti praktik agroforestry dalam Perhutanan Sosial sebagai pendekatan yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan kawasan hutan.

“Hutan tropis seperti di Indonesia, Cekungan Kongo di Afrika, dan Cekungan Amazon memiliki nilai dan sumber ilmu pengetahuan yang besar, tidak hanya untuk konservasi tetapi juga untuk pertanian melalui sistem agroforestry,” kata Elisabeth.

Ia mencontohkan kakao sebagai salah satu komoditas agroforestry bernilai ekonomi tinggi yang dapat tumbuh di bawah tegakan pohon hutan. Selain itu, Elisabeth menyampaikan bahwa CIRAD memiliki kapasitas riset yang luas untuk mendukung penelitian terkait dampak perubahan iklim terhadap kawasan hutan tropis.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Kementerian Kehutanan, antara lain Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, serta Direktur Jenderal Perhutanan Sosial, bersama delegasi Kedutaan Besar Prancis di Indonesia. Kementerian Kehutanan menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kerja sama internasional yang konstruktif, terukur, dan berorientasi pada keberlanjutan hutan serta kesejahteraan masyarakat.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles