Direktorat Rehabilitasi Mangrove menegaskan komitmennya dalam membangun ketahanan pesisir Indonesia melalui penguatan peran generasi muda lewat program Mangrove Goes To School (MGTS).
Program ini menjadi bagian dari strategi komunikasi publik dan edukasi lingkungan yang bertujuan menumbuhkan kesadaran, kepedulian, serta kepemimpinan generasi muda sebagai garda terdepan rehabilitasi mangrove berkelanjutan.
Dalam kurun waktu empat bulan pelaksanaan, MGTS telah menjangkau lebih dari 2.000 peserta, yang terdiri atas mahasiswa dan pelajar SMA di sembilan provinsi.
Kegiatan ini dilaksanakan di sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Gadjah Mada, IPB University, Universitas Jambi, Universitas Udayana, Universitas Riau, dan Universitas Maritim Raja Ali Haji yang dipilih karena kedekatannya dengan wilayah pesisir dan DAS prioritas serta peran strategisnya dalam pengembangan ilmu dan aksi lingkungan.
Program ini juga menjangkau 4 Sekolah Menengah Atas (SMA) di kawasan pesisir guna menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia sekolah.
Kegiatan dari Program MGTS terdiri dari kuliah umum, talkshow interaktif, diskusi tematik, dan sesi berbagi praktik lapangan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai peran mangrove sebagai benteng alami pesisir, penyerap karbon biru (blue carbon), pelindung keanekaragaman hayati, serta pengungkit ekonomi masyarakat pesisir.
Tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, MGTS juga mendorong lahirnya aksi nyata. Hingga saat ini, program ini telah memicu dorongan dan antusiasme pelajar dalam pengembangan kegiatan rehabilitasi mangrove seperti proposal riset mahasiswa, kampanye lingkungan berbasis media sosial, pembentukan komunitas peduli mangrove di kampus dan sekolah, hingga keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan rehabilitasi mangrove di daerah masing-masing.
Direktur Rehabilitasi Mangrove, Nikolas Nugroho Surjobasuindro, menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran kunci dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Indonesia.
“Rehabilitasi mangrove membutuhkan keberlanjutan lintas generasi. Melalui Mangrove Goes To School, kami menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memahami pentingnya mangrove, tetapi juga memiliki kepemimpinan, kepedulian, dan keberanian untuk terlibat langsung sebagai agen perubahan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan edukasi yang partisipatif dan berbasis data akan melahirkan generasi yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan aksi kolektif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, abrasi, dan tekanan pembangunan di wilayah pesisir.
Ke depan, Direktorat Rehabilitasi Mangrove menargetkan MGTS akan diintegrasikan dengan bidang kehutanan secara umum dan dilakukan perluasan ke minimal 10 perguruan tinggi dan SMA di wilayah pesisir dan DAS prioritas hingga tengah tahun, dengan target menjangkau lebih dari 2000 pelajar dan mahasiswa.
Perluasan ini akan diperkuat melalui dukungan proyek Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) serta kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas lokal, dan mitra pembangunan.
Melalui MGTS, Direktorat Rehabilitasi Mangrove menegaskan bahwa investasi pada generasi muda adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan mangrove dan ketahanan pesisir Indonesia (*).



