Senin, 20 April 2026

Fokus Gambut, Wamenhut Dorong Penguatan SDM dan Kolaborasi ASEAN

Latest

- Advertisement -spot_img

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih menjadi kunci utama dalam pengendalian kebakaran hutan, khususnya di kawasan gambut yang memiliki karakteristik kompleks dan berisiko tinggi.

Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan 2nd Training of Trainers for Forest Fire Suppression in Peatland yang diselenggarakan di Bogor dan Sumatera Selatan pada 13–24 April 2026, dengan melibatkan peserta dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, dan Kamboja.

Program pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif Forest Fire Management in Asia (FFMA) yang dikembangkan oleh Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO) bersama Kementerian Kehutanan RI, dengan dukungan Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis, Korea Forest Service serta IPB University.

“Pengelolaan kebakaran hutan yang efektif tidak cukup hanya mengandalkan peralatan dan teknologi, tetapi harus ditopang oleh keterampilan serta kesiapan sumber daya manusia yang terlatih dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan,” kata Rohmat.

Menurut dia, pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas teknis sekaligus memperkuat koordinasi lintas negara dalam menghadapi kebakaran hutan yang bersifat regional. Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga membuka peluang kolaborasi dan pertukaran praktik terbaik antarnegara di kawasan ASEAN.

“Selain meningkatkan kapasitas individu, pelatihan ini juga diharapkan dapat membangun jaringan pelatih regional (regional trainer network) yang mampu mereplikasi pengetahuan di masing-masing negara, sehingga memperkuat sistem pelatihan dan kelembagaan pengendalian kebakaran gambut secara berkelanjutan serta memperluas jejaring regional,” imbuhnya.

Sementara itu, perwakilan International Tropical Peatlands Center (ITPC), Ayu Dewi Utari menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam pengelolaan gambut sebagai upaya pencegahan kebakaran hutan.

“Pengelolaan gambut untuk mencegah kebakaran hutan harus dilakukan secara terintegrasi melalui rewetting, revegetasi, dan revitalisasi ekonomi masyarakat dalam satu kesatuan hidrologi gambut,” ujar Ayu.

Lebih lanjut, Ayu menegaskan bahwa keberhasilan restorasi gambut sangat bergantung pada pendekatan yang menyeluruh dalam satu kesatuan hidrologi gambut (KHG). Menurut dia, restorasi yang dilakukan secara parsial tidak akan efektif dalam menjaga keseimbangan air di dalam ekosistem gambut dan berpotensi menyebabkan kekeringan yang memicu kebakaran gambut.

Ia juga menambahkan bahwa ITPC berperan sebagai platform kolaborasi internasional yang mendorong pertukaran pengetahuan berbasis sains, penguatan kapasitas, serta kerja sama antarnegara dalam pengelolaan gambut tropis. “ITPC hadir untuk memastikan bahwa kebijakan dan praktik pengelolaan gambut didukung oleh data yang kredibel, analisis ilmiah, serta kolaborasi global yang kuat,” katanya.

Kepala Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan Kementerian Kehutanan (Pengampu/mitra AFoCO Secretariat di Indonesia) Gun Gun Hidayat menjelaskan bahwa Kementerian Kehutanan mendorong Sekretariat Interim ITPC untuk semakin aktif berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait pengelolaan gambut dalam konteks penanganan kebakaran hutan. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pelibatan ITPC dalam forum ini diperkuat untuk memberikan perspektif yang lebih komprehensif berbasis pengalaman dan praktik terbaik di tingkat nasional maupun internasional.

Kementerian Kehutanan menilai bahwa peran ITPC menjadi semakin strategis dalam mendukung peningkatan kapasitas teknis serta pemahaman lintas negara dalam pengelolaan ekosistem gambut.

“Kami mendorong Sekretariat Interim ITPC untuk terus berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait gambut, karena pengalaman dan modalitas yang dimiliki ITPC mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai karakteristik dan perilaku gambut, khususnya dalam kaitannya dengan penanganan kebakaran hutan,” ujar Gun Gun.

Menurut dia, penguatan peran ITPC diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan strategi penanganan kebakaran gambut yang lebih efektif, berbasis sains, serta adaptif terhadap kondisi lapangan.

Pelatihan dirancang melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan pembelajaran di kelas, simulasi, dan praktik lapangan guna meningkatkan kesiapsiagaan operasional dalam penanganan kebakaran di kawasan gambut, termasuk pemahaman terhadap karakteristik kebakaran gambut seperti fenomena pembakaran bawah permukaan (underground smouldering) serta pengelolaan air melalui teknik rewetting.

Kegiatan ini merupakan bagian dari fase utama (Main Phase 2026–2030) FFMA yang bertujuan membangun sistem pelatihan yang lebih terstruktur, terinstitusionalisasi, dan dapat direplikasi di berbagai negara.

Selain memperkuat kapasitas individu, program ini juga menghasilkan keluaran strategis berupa modul pelatihan komprehensif, laporan pelaksanaan, serta policy brief yang dapat menjadi rujukan dalam penguatan kebijakan dan kelembagaan pengendalian kebakaran gambut di tingkat nasional maupun regional.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles