Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) memperkuat kolaborasi multipihak dan peran perempuan dalam mendukung implementasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 melalui kegiatan “Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030” yang digelar di kawasan TNGC, Kuningan, Jawa Barat, pada 11–13 Mei 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan unsur kementerian/lembaga, organisasi lingkungan, media, komunitas, dunia usaha, dan pegiat konservasi dalam rangka membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya pelestarian hutan, pengendalian perubahan iklim, serta penguatan komunikasi publik kehutanan menuju target penurunan emisi nasional.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai mengatakan kawasan konservasi memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 melalui perlindungan ekosistem, pemulihan hutan, hingga penguatan keterlibatan masyarakat dalam aksi pelestarian lingkungan. “TNGC tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi benteng perlindungan sumber mata air, pengendalian perubahan iklim, serta ruang pembelajaran kolaboratif bagi masyarakat dalam mendukung Indonesia’s FOLU Net Sink 2030,” ujarnya.
Ia menjelaskan TNGC memiliki sedikitnya 97 sumber mata air yang tetap mengalir sepanjang tahun dengan total debit mencapai 9.057,61 liter per detik pada enam daerah aliran sungai (DAS). Menurut dia, keberadaan kawasan konservasi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekologi sekaligus menopang kehidupan masyarakat di wilayah Ciayumajakuning.
Selain melakukan pemulihan ekosistem dan rehabilitasi kawasan, Balai TNGC juga mengembangkan berbagai inovasi bioprospeksi seperti bakteri tahan kekeringan, anti frost, dan pengendalian hama ramah lingkungan untuk mendukung industri konservasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Ia menambahkan keterlibatan perempuan dan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran lingkungan dan memperkuat aksi kolektif menghadapi perubahan iklim.
Kepala Bagian Hubungan Antar Lembaga dan Protokol mewakili dari Biro Humas dan KLN Kementerian Kehutanan, Aryani mengatakan kegiatan Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 dirancang tidak hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga ruang kolaborasi lintas sektor untuk membangun pemahaman publik mengenai pentingnya peran kehutanan dalam pengendalian perubahan iklim. “Kami ingin menghadirkan pendekatan komunikasi yang lebih membumi dan menyentuh langsung pengalaman peserta melalui edukasi lapangan, jelajah biodiversitas, forest healing, hingga aksi penanaman bersama di kawasan konservasi,” ujarnya.
Ia menambahkan keterlibatan kementerian/lembaga, media, organisasi lingkungan, dunia usaha, komunitas perempuan, hingga influencer menjadi bagian penting dalam memperkuat narasi positif pengelolaan hutan Indonesia. Menurut Aryani, komunikasi publik kehutanan saat ini harus mampu membangun kesadaran kolektif bahwa agenda FOLU Net Sink 2030 bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi mendatang.
Perwakilan Wildlife Conservation Society (WCS) Program Indonesia Gini Wening Galih menyampaikan perempuan di sekitar kawasan konservasi memiliki peran besar sebagai penjaga lingkungan, pemimpin ekonomi, dan arsitek keberlanjutan. “Perempuan bukan tidak terlihat, tetapi sering kali sistemlah yang membuat peran mereka tidak terlihat,” ujarnya. Menurut Gini, penguatan kapasitas kepemimpinan perempuan, akses ekonomi, dan ruang partisipasi menjadi kunci penting dalam mendukung keberhasilan konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, pegiat konservasi Umi Thoyibah menilai perlindungan alam membutuhkan ketulusan, kepedulian, dan konsistensi seluruh pihak dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan. “Melindungi alam bukan hanya tentang keberanian menghadapi liarnya hutan, tetapi juga tentang hati yang besar, ketulusan yang tak habis, dan keteguhan untuk terus mendukung tujuan yang lebih besar seperti memitigasi konflik,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, Kementerian Kehutanan berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan komunitas perempuan dalam mendukung implementasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, sekaligus memperkuat kesadaran publik bahwa pelestarian hutan dan pengendalian perubahan iklim memerlukan kolaborasi nyata dan berkelanjutan dari seluruh pihak.
***



