Penunjukkan Prof. Dr. Anter Venus, M.A. Comm sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) dilakukan dalam upaya memperkuat arah strategis organisasi profesi tersebut di tengah tantangan disrupsi digital, kecerdasan artifisial (AI), serta perubahan lanskap komunikasi yang berkembang sangat cepat.
Penunjukan akademisi yang dikenal aktif dalam pengembangan kajian komunikasi digital dan media itu diharapkan mampu memperkuat kontribusi ADPIKI dalam membangun ekosistem komunikasi berbasis ilmu pengetahuan, literasi publik, dan pemanfaatan teknologi digital yang lebih bertanggung jawab di Indonesia.
Prof. Anter Venus mengatakan perkembangan teknologi digital dan AI telah mengubah cara masyarakat memproduksi, menyebarkan, dan mengonsumsi informasi secara masif sehingga menimbulkan tantangan baru dalam kehidupan sosial dan komunikasi publik.
“Banjir informasi yang terjadi saat ini tidak otomatis membuat masyarakat menjadi lebih baik atau lebih bijak. Justru muncul tantangan serius berupa misinformasi, disinformasi, infodemic, hingga kelelahan digital akibat derasnya arus informasi,” ujar Anter Venus dalam paparannya bertajuk “Siasat Komunikologis atas Banjir Informasi di Era Digital dan AI”.
Ia menjelaskan bahwa algoritma digital kini tidak lagi sekadar menjadi alat distribusi informasi, tetapi juga mulai mengambil alih peran dalam membentuk konstruksi realitas sosial masyarakat. Menurut dia, kondisi tersebut menuntut pendekatan komunikasi yang lebih kritis, adaptif, dan berbasis ilmu pengetahuan.
“Algoritma perlahan mengambil alih cara manusia memahami realitas sosial. Karena itu, komunikasi tidak boleh hanya dipahami sebagai penyampaian pesan, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan kesadaran sosial dan pengambilan keputusan publik,” katanya.
Prof. Anter Venus mengatakan konsumsi informasi masyarakat di era digital terus meningkat seiring tingginya penggunaan internet dan media sosial, termasuk meningkatnya penetrasi AI pada generasi muda. Kondisi tersebut, menurut dia, membuat masyarakat semakin rentan terhadap hoaks, filter bubble, post-truth, hingga manipulasi informasi berbasis algoritma.
Ia menilai dunia akademik memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan komunikasi publik yang faktual, kredibel, dan berbasis sains di tengah meningkatnya polarisasi informasi di ruang digital. Karena itu, penguatan literasi media, kemampuan berpikir kritis, budaya verifikasi, etika AI, serta perlindungan data pribadi menjadi kebutuhan penting di era komunikasi modern.
“Komunikasi publik harus dibangun di atas informasi yang akurat, faktual, dan berbasis ilmu pengetahuan. Masyarakat juga perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang manipulatif,” ujarnya.
Menurut dia, hampir seluruh teori komunikasi dan media tetap relevan digunakan untuk membaca perubahan sosial di era digital, mulai dari agenda setting, framing, uses and gratification, hingga teori jejaring sosial dan cyber community. Tantangan komunikasi modern, lanjutnya, membutuhkan fleksibilitas pendekatan karena ruang digital bersifat partisipatif, cair, personal, sekaligus sangat polaristik.
ADPIKI berharap kehadiran Prof. Anter Venus sebagai Ketua Dewan Pertimbangan dapat memperkuat kontribusi organisasi dalam pengembangan ilmu komunikasi yang responsif terhadap perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta kebutuhan komunikasi publik di Indonesia.
***



