Di tengah tantangan industri kehutanan yang semakin kompleks, penguatan sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi faktor kunci dalam mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Keterlibatan aktif pelaku usaha, pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, akademisi, serta mitra pembangunan dinilai penting untuk memastikan kebijakan dan program kehutanan berjalan efektif, adaptif, dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional maupun kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Soewarso menggelar pertemuan silaturahmi dengan KOMDA Kalimantan Timur dan KOMDA Kalimantan Utara beserta seluruh anggotanya di Samarinda pada Selasa (10/02/2026), menjelang bulan suci Ramadan.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal APHI Purwadi Soeprihanto dan Wakil Komite Humas dan Kerjasama APHI Trisia Megawati. Soewarso mengatakan, silaturahmi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi, sinergi, dan kolaborasi antara pengurus pusat, daerah, dan anggota dalam menghadapi berbagai tantangan industri kehutanan. “Menjelang Ramadan, kami ingin memperkuat kebersamaan, menyamakan visi, serta membangun kolaborasi yang lebih solid antara pusat, daerah, dan seluruh anggota,” ujar Soewarso.
Ia menegaskan, penguatan sinergi tidak hanya dilakukan di internal organisasi, tetapi juga dengan berbagai pemangku kepentingan strategis. “APHI harus terus membangun kerja sama yang erat dengan pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, masyarakat sekitar hutan, akademisi, serta mitra pembangunan lainnya agar kebijakan dan program kehutanan berjalan efektif,” katanya.
Menurut Soewarso, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menciptakan industri kehutanan yang berdaya saing sekaligus berkelanjutan. “Ke depan, tantangan kehutanan semakin kompleks, mulai dari isu lingkungan, sosial, hingga pasar global. Semua itu tidak bisa diselesaikan sendiri, tetapi harus melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa penguatan jejaring dengan berbagai pihak harus diarahkan untuk mendorong tata kelola hutan yang bertanggung jawab dan inklusif. “Kami ingin APHI menjadi simpul kolaborasi yang mampu menjembatani kepentingan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Soewarso.
Selain itu, Soewarso menegaskan komitmen APHI untuk terus berperan aktif sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan sektor kehutanan nasional. Menurutnya, sinergi pusat dan daerah yang diperkuat melalui forum-forum seperti ini akan mempercepat pencapaian target pembangunan kehutanan yang berkelanjutan.
Ketua Komisariat Daerah (Komda) APHI Kalimantan Timur Asrul Anwar menyampaikan, pertemuan tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat koordinasi antara pengurus pusat APHI dan daerah. “Kami bersama anggota di daerah sangat membutuhkan dukungan pusat agar kebijakan dan program yang dijalankan sejalan dengan kondisi di lapangan,” kata Asrul Anwar.
Menurut dia, komunikasi yang intensif akan mempercepat penyelesaian berbagai persoalan operasional di sektor kehutanan, sekaligus meningkatkan daya saing industri di wilayah Kalimantan Timur. Selain memperkuat koordinasi, Komda APHI Kalimantan Timur juga berkomitmen untuk terus meningkatkan peran anggota dalam mendukung praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan, kepatuhan terhadap regulasi, serta penguatan kemitraan dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi sektor kehutanan Kalimantan Timur terhadap pembangunan ekonomi daerah dan nasional.
Sementara itu, Ketua Komda APHI Kalimantan Utara Eddy Zulkarnaen menilai silaturahmi ini sebagai wujud komitmen bersama dalam membangun ekosistem kehutanan yang sehat dan berkelanjutan. “Pertemuan ini bukan hanya silaturahmi menjelang Ramadan, tetapi juga penguatan komitmen antara pusat, daerah, dan anggota untuk memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.
Edy menambahkan, sinergi lintas wilayah dan keterlibatan aktif anggota akan mendorong terciptanya industri kehutanan yang tangguh, adaptif, serta memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Melalui pertemuan tersebut, APHI berharap semangat kebersamaan dan kolaborasi yang terbangun dapat menjadi modal utama dalam memperkuat peran sektor kehutanan nasional. Momentum Ramadan juga diharapkan semakin mempererat hubungan antar pengurus dan anggota dalam membangun industri kehutanan Indonesia yang lebih baik dan berkelanjutan.
***



