Selasa, 24 Maret 2026

Melalui SENA 2026, Ekspor Seafood Indonesia Ke AS Ditingkatkan

Latest

- Advertisement -spot_img

Gelaran Seafood Expo North America 2026 (SENA 2026) berlangsung di kota Boston, Negara Bagian Massachusetts AS, pada 15 – 17 Maret 2026.  Sekitar 50 negara ikut berpartisipasi di 1340 gerai (booth), termasuk gerai Indonesia.  Ini adalah pameran produk perikanan terbesar di AS dan salah satu terbesar di Dunia. SENA 2026 yang berlangsung di Thomas M. Menino Convention & Exhibition Center, menampilkan berbagai produk ikan dan seafood segar, beku, kalengan, produk nilai-tambah, serta produk olahan dan kemasan lainnya.

Sedang dibagian pengolahan seafood, ditampilkan teknologi dan jasa untuk pemrosesan, pengemasan, pendinginan, dan logistik.​  Indonesia memang perlu tampil di SENA 2026, setelah dua tahun absen. Dimotori Kementerian Perdagangan RI, didukung Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Kedutaan Besar RI di Amerika Serikat dan asosiasi asosiasi perikanan Indonesia, seperti Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) dan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI), bersama eksportir eksportir seafood Indonesia, dibangun Gerai Indonesia yang tampil menyala, menonjolkan nuansa warna merah putih.

Disitu dipamerkan beragam produk perikanan Indonesia, dari ikan tuna beku, tuna kaleng, produk sashimi, produk ikan beku, produk ikan olahan siap-saji, produk udang beku hingga udang siap saji, juga rajungan dan ikan kakap merah beku.  Beberapa tema dimunculkan oleh Gerai Indonesia, seperti: “Feed The Nation and The World”, “Best Quality Seafood Products”,  Ïnonesia Gives You More In Quality and Quantity”, “Indonesia Seafood: Naturally Diverse, dan “Save and Sustainale”.

Kehadiran Indonesia di SENA 2026 penting mengingat potensi pasar ekspor produk perikanan Indonesia ke AS amatlah besar.  Data tahun 2025 memperlihatkan bahwa total ekspor produk perikanan Indonesia ke Amerika Serikat mencapai US$ 1.99 milyar, dengan tiga besar produk ekspor adalah udang dengan nilai ekspor US$ 1.87 milyar, rajungan/kepiting US$ 350 juta dan tuna US$ 250 juta.  Potensi pasar ekspor ke AS masih terbuka luas, seperti disampaikan Duta Besar RI, Indroyono Soesilo, bahwa Amerika Serikat merupakan salah satu pasar utama produk perikanan dunia, dengan tingkat konsumsi yang tinggi serta standar keamanan pangan yang sangat ketat.   Sedang Indonesia memiliki potensi besar  sebagai salah satu negara produsen seafood terbesar di Dunia dan dapat memasuki pasar AS secara besar-besaran. 

Gerai Indonesia di SENA 2026 dibuka oleh Dubes RI Indroyono Soesilo didampingi Dr.Bara Hasibuan, Staff Khusus dan Penasihat Senior Menko Pangan RI, sekaligus Sekretaris Satgas Cesium-137 dan Atase Perdagangan KBRI Washington DC. Dr.Ranitya Kusumadewi.

Kehadiran Dr.Bara Hasibuan menjadi penting guna meyakinkan para importir udang di AS bahwa permasalahan adanya radioaktif Cesium-137 pada udang Indonesia telah berhasil diatasi.  Pada Agustus 2025, pihak AS memantau adanya radioaktif Cesium-137 dalam kontainer pengiriman udang beku dari Indonesia, kemudian menghentikan sementara ekspor udang ke AS. Namun, sejak Desember 2025, Indonesia sudah diperbolehkan mengekspor kembali produk udang ke AS, dan hingga Maret 2026 sudah diekspor 2400 kontainer udang dari Indonesia.  Pihak US Food & Drug Administration (US-FDA) terus memantau hal ini, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.  Saat bertemu dengan Dr.Bara Hasibuan, Direktur US-FDA, Steven Bloodgood menyampaikan bahwa Tim US-FDA akan berkunjung ke Indonesia pada April 2026 guna melaksanakan pemantauan langsung di lapangan.

Sedang pertemuan antara Dubes RI, Indroyono Soesilo dengan Dr.Eugenio Solar, Assistant Administrator US National Oceanic & Atmospheric Administration (US-NOAA) dibahas tentang peraturan US Marine Mammal Protection Act (MMPA) agar sistem penangkapan ikan tidak mengganggu kehidupan mamalia di laut. Saat Dubes Indroyono bertemu dengan President & CEO US National Fisheries Institute (US-NFI), Linda Picard, disepakati untuk melanjutkan riset dan pengembangan rajungan biru, the blue swimming crab, yang pernah dilaksanakan oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) bersama US-NFI, Smithsonian Institution dan University of Maryland.  

Rajungan Biru amat digemari di AS, namun populasinya semakin menurun. Populasi ditingkatkan dan bisa dikembalikan jumlahnya lewat pembenihan dan menebar kembali rajungan biru ini ke laut. Benih rajungan biru bisa dibudidayakan di Indonesia.

Lewat SENA 2026, diharapkan ekspor seafood Indonesia ke AS meningkat, ini dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan devisa ekspor.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles