Rabu, 25 Maret 2026

“Loss and Damage” Jadi Agenda Mendesak dalam Negosiasi Iklim Global

Latest

- Advertisement -spot_img

Kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim semakin menjadi perhatian dunia karena dampaknya yang langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama di negara-negara yang paling rentan terhadap bencana iklim. Konsep “loss and damage” atau kehilangan dan kerusakan kini menjadi salah satu isu penting dalam perdebatan global mengenai keadilan iklim.

Istilah tersebut merujuk pada dampak perubahan iklim yang tidak dapat dicegah atau dipulihkan sepenuhnya melalui upaya mitigasi maupun adaptasi. Fenomena ini mencakup berbagai kerugian, mulai dari kerusakan infrastruktur, hilangnya mata pencaharian, hingga dampak sosial dan budaya yang dialami masyarakat akibat bencana terkait iklim.

Para pakar menjelaskan bahwa “loss and damage” muncul ketika dampak perubahan iklim melampaui kemampuan masyarakat untuk beradaptasi. Dalam konteks ini, negara-negara yang paling sedikit menyumbang emisi gas rumah kaca justru sering menjadi pihak yang paling terdampak.

Menurut laporan yang disampaikan dalam forum iklim internasional di bawah naungan United Nations Framework Convention on Climate Change, isu kehilangan dan kerusakan semakin mendapat perhatian dalam perundingan global karena berkaitan erat dengan keadilan bagi negara berkembang dan negara kepulauan kecil yang rentan terhadap perubahan iklim.

Para ahli menilai bahwa fenomena ini tidak hanya menyangkut kerugian ekonomi yang dapat dihitung secara finansial, tetapi juga kerugian non-ekonomi seperti hilangnya identitas budaya, perpindahan penduduk, serta rusaknya ekosistem yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Sejumlah organisasi lingkungan menilai bahwa negara-negara maju memiliki tanggung jawab lebih besar dalam membantu negara rentan menghadapi dampak perubahan iklim. Hal ini karena negara industri secara historis menyumbang sebagian besar emisi karbon global.

“Negara-negara yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim sering kali menanggung dampak yang paling berat. Oleh karena itu, mekanisme pendanaan untuk loss and damage menjadi bagian penting dari keadilan iklim,” kata seorang analis kebijakan dari Global Landscapes Forum dalam kajian mengenai isu tersebut.

Perhitungan kerugian akibat perubahan iklim dilakukan dengan berbagai pendekatan, termasuk estimasi kerusakan infrastruktur, biaya pemulihan ekonomi, hingga dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan masyarakat. Namun para peneliti mengakui bahwa banyak dampak yang sulit dinilai secara finansial, seperti hilangnya ekosistem atau tradisi masyarakat yang terancam punah akibat bencana iklim.

Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas internasional mulai mendorong pembentukan mekanisme pendanaan khusus untuk membantu negara-negara yang mengalami dampak paling berat. Pendanaan tersebut diharapkan dapat mendukung proses pemulihan, pembangunan kembali, serta perlindungan masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan akibat perubahan iklim.

Para pemimpin dunia juga terus didesak untuk memperkuat komitmen terhadap dukungan finansial bagi negara rentan. Para pengamat menilai bahwa tanpa mekanisme pendanaan yang jelas, negara-negara yang paling terdampak akan menghadapi kesulitan besar untuk pulih dari kerusakan yang ditimbulkan oleh krisis iklim.

Isu kehilangan dan kerusakan diperkirakan akan tetap menjadi agenda penting dalam perundingan iklim global ke depan. Para pakar menilai bahwa upaya mitigasi dan adaptasi tetap harus diperkuat, namun dunia juga perlu menyiapkan mekanisme solidaritas internasional untuk membantu masyarakat yang sudah merasakan dampak perubahan iklim secara langsung.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles