Kementerian Kehutanan bersama PT Arrakasta Nusalink Logistik (ANL Logistics) melanjutkan pembahasan transformasi logistik rendah karbon dalam Sesi 2 Green Logistics Talk bertajuk “Measuring, Reducing, and Managing Carbon Footprint in Logistics for Indonesia’s Climate Commitment” di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu, 19 Februari 2026.
Sesi ini menyoroti integrasi pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), pemanfaatan teknologi penghitungan emisi berbasis digital, serta kolaborasi lintas sektor untuk mendukung target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
Project Director FOLU NC-1 sekaligus Dewan Penasihat Ahli FOLU Net Sink 2030 Kementerian Kehutanan, Agus Justianto, dalam opening remarks menegaskan bahwa penguatan tata kelola lanskap dan sistem logistik menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi pencapaian komitmen iklim nasional. Ia menyatakan bahwa integrasi kebijakan kehutanan, tata ruang, dan transportasi harus berjalan selaras agar pengurangan emisi dapat terukur dan berkelanjutan. “Sinergi antar pemangku kepentingan menjadi kunci agar upaya penurunan emisi sektor logistik dan kehutanan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap target FOLU Net Sink 2030,” ujar Agus.
Founder ANL Logistics, Netty Sri Rejeki, menekankan bahwa dunia usaha perlu mengadopsi pendekatan berbasis data dalam pengelolaan jejak karbon. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi dengan pemerintah dan mitra teknologi akan mempercepat implementasi logistik hijau di lapangan. “Kami mendorong pemanfaatan sistem pengukuran emisi yang transparan dan terstandar agar pelaku usaha dapat mengambil keputusan berbasis data dan bertanggung jawab terhadap dampak lingkungannya,” kata Netty.
Dalam paparannya, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum Ciliwung Kementerian Kehutanan, Heru Permana, menjelaskan bahwa sektor logistik terhubung langsung dengan kondisi lanskap dan sumber daya air. Ia menyebutkan bahwa terdapat 799 DAS di Indonesia yang terdiri dari 509 DAS daratan dan 290 DAS kepulauan. “DAS adalah urat nadi logistik karena menjadi jalur transportasi, sumber air industri, sekaligus penyangga ekosistem yang menyerap emisi,” ujar Heru.
Heru memaparkan bahwa 70 persen jalur distribusi di Pulau Jawa melewati wilayah DAS, sementara banjir dan longsor di kawasan DAS menimbulkan kerugian logistik hingga Rp2,1 triliun per tahun. Ia menegaskan bahwa pengelolaan DAS menjadi strategi mitigasi emisi logistik melalui rehabilitasi hutan dan lahan, konservasi tanah dan air, serta pengendalian erosi untuk menjaga stabilitas jalur distribusi.
Menurutnya, integrasi kebijakan DAS dalam skema FOLU Net Sink 2030 mencakup rehabilitasi hutan dan lahan, penguatan kelembagaan, serta kolaborasi investasi hijau dengan pelaku usaha.
Salsabila Gunawan dari ANL Logistics menambahkan bahwa implementasi logistik rendah karbon memerlukan komitmen operasional yang konsisten di tingkat perusahaan. Ia menyatakan bahwa penghitungan emisi, efisiensi energi, dan pelaporan berkelanjutan harus menjadi bagian dari tata kelola perusahaan. “Penerapan logistik hijau bukan sekadar kepatuhan, tetapi komitmen jangka panjang untuk memastikan rantai pasok berjalan efisien sekaligus ramah lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, James Blackman dari CocoonFMS memperkenalkan solusi Cloud Based Carbon Emissions Calculator yang dirancang untuk menghitung emisi pada berbagai moda transportasi.
Ia menjelaskan bahwa sistem berbasis Software as a Service (SaaS) tersebut mengikuti kerangka Greenhouse Gas Protocol dan Global Logistics Emissions Council (GLEC), serta menyediakan data emisi hingga tingkat pengiriman. “Solusi berbasis cloud memungkinkan perusahaan melacak emisi secara multimoda dan memperoleh data yang dapat ditindaklanjuti untuk mendukung target Environmental, Social, and Governance (ESG),” kata James.
Ia menambahkan bahwa hingga saat ini sistem tersebut telah menghitung 1,75 juta pengiriman dan dirancang dengan infrastruktur server yang netral karbon. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital akan mempercepat integrasi pelaporan emisi dan membantu perusahaan logistik mencapai efisiensi sekaligus memenuhi standar pelaporan keberlanjutan.
Melalui Sesi 2 ini, para pembicara menegaskan bahwa penguatan pengelolaan DAS dan pemanfaatan teknologi penghitungan emisi menjadi fondasi penting dalam membangun sistem logistik rendah karbon yang mendukung ketahanan ekosistem serta pencapaian FOLU Net Sink 2030.
***



