Peringatan World Wetlands Day 2026 pada 2 Februari menjadi momentum global untuk menegaskan kembali nilai strategis ekosistem lahan basah dalam menopang kehidupan manusia, khususnya di wilayah pesisir. Dengan tema “Wetlands and traditional knowledge: Celebrating cultural heritage”, peringatan tahun ini menyoroti pentingnya pengetahuan tradisional masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lahan basah di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Di pesisir Teluk Meksiko, negara bagian Veracruz, Meksiko, pendekatan tersebut telah diterapkan melalui proyek yang didukung International Tropical Timber Organization (ITTO). Proyek ini menggabungkan penilaian ilmiah dan pengetahuan ekologi tradisional untuk mengukur serta mengungkap nilai nyata ekosistem lahan basah, termasuk mangrove, hutan tergenang, hutan hujan, dan sistem bukit pasir pesisir.
Wilayah pesisir Veracruz membentang di dataran pantai tengah Teluk Meksiko dan dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hutan pesisir tertinggi di negara tersebut. Ekosistem mangrove dan hutan tergenang berperan sebagai pelindung alami dari gelombang badai, pengatur aliran air, penyimpan karbon, serta penopang mata pencaharian masyarakat pesisir. Namun, tekanan alih fungsi lahan dan deforestasi selama beberapa dekade telah menyebabkan degradasi serius, dengan sekitar 85 persen sistem bukit pasir pesisir di Veracruz dilaporkan mengalami kerusakan.
Manajer Proyek ITTO, Ramón Carrillo, menyatakan bahwa rendahnya pengakuan terhadap nilai hutan pesisir selama ini berakar dari pendekatan pembangunan yang sempit.
“Secara historis, hutan pesisir di Meksiko sering kali diremehkan karena manfaatnya tidak terlihat dalam perencanaan konvensional. Bagi masyarakat Veracruz, hutan ini bukan sekadar ekosistem, melainkan perlindungan, ketahanan pangan, dan identitas budaya. Proyek ini menggabungkan angka dan narasi untuk menunjukkan nilai sesungguhnya yang telah lama dipahami masyarakat lokal.” ujar Carrillo.
Proyek yang diluncurkan pada 2012 tersebut melakukan penilaian lingkungan dan valuasi ekonomi terhadap jasa ekosistem hutan pesisir, termasuk perlindungan banjir dan badai, penyerapan karbon, peningkatan kualitas air, regenerasi alami, serta konektivitas habitat. Hasil kajian menunjukkan bahwa jika seluruh jasa ekosistem diperhitungkan, nilai lahan basah dan hutan tergenang jauh melampaui nilai lahan pertanian atau padang penggembalaan hasil konversi hutan.
Selain kajian teknis, proyek ini juga melibatkan masyarakat dalam pemantauan berbasis komunitas dan penyusunan kriteria valuasi, sehingga pengetahuan tradisional menjadi bagian integral dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ini menghasilkan berbagai publikasi praktis, termasuk buku panduan restorasi bukit pasir pesisir dan pengelolaan spesies pohon secara berkelanjutan, yang disusun berdasarkan pengalaman lokal dengan metode berbiaya rendah.
Direktur Eksekutif ITTO, Sheam Satkuru, menegaskan bahwa pengalaman di Veracruz mencerminkan peran penting lahan basah sebagai solusi berbasis alam.
“Lahan basah merupakan salah satu solusi berbasis alam paling efektif untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan pembangunan. Ketika pengelolaannya didasarkan pada sains dan diperkaya oleh pengetahuan tradisional, lahan basah dapat menjadi fondasi bagi ketahanan masyarakat dan kebijakan publik yang berkelanjutan.” kata Sheam Satkuru.
ITTO menilai pembelajaran dari Veracruz relevan bagi negara-negara pesisir lainnya, termasuk di kawasan tropis, di tengah meningkatnya risiko badai, banjir, dan kenaikan muka air laut. Pengalaman tersebut memperkuat pentingnya memasukkan nilai lahan basah dalam perencanaan tata guna lahan, skema pembayaran jasa lingkungan, dan strategi adaptasi perubahan iklim.
***



