Selasa, 31 Maret 2026

Birute Galdikas, 55 Tahun Meneliti Orangutan

Latest

- Advertisement -spot_img

Selasa pagi, 24 Maret 2026, berita duka dari Markas Orangutan Foundation International (OFI) di Los Angeles AS, masuk ke telepon seluler Duta Besar RI di Washington DC, Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang mengabarkan bahwa ilmuwan orangutan kelas Dunia, Dr. Birute Galdikas, telah mangkat di Los Angeles, AS pada Selasa, 24 Maret 2026, pukul 04.30 pagi waktu Los Angeles.

Tidak beberapa lama kemudian, datang pesan elektronik dari Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, yang mengharapkan bantuan KBRI Washington DC dan Konsulat Jenderal RI di Los Angeles untuk pemulangan jenazah Dr.Galdikas ke tanah air, guna dimakamkan di tanah Kalimantan Tengah, tempat ia, selama 55 tahun, mendedikasikan hidupnya, melaksanakan riset dan konservasi orangutan. Dr.Birute Galdikas telah menjadi Warga Negara Indonesia dan memiliki Paspor WNI No.X2901052.

Biruté Mary Galdikas, kelahiran Canada tahun 1947, telah terjun ke Kalimantan Tengah sejak tahun 1971, untuk melaksanakan riset tentang orangutan langsung di habitatnya. Di Dunia, hanya ada tiga perempuan ilmuwan yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk riset dan konservasi kera-kera besar. Disitu ada Dr.Dian Fossey yang khusus meneliti gorilla di Rwanda, Afrika. Ia tewas dibunuh pada tahun 1985 lalu.

Kemudian, dikenal pula nama Dr. Jane Goodall, ahli simpanse, yang video singkatnya kerap muncul di saluran TV CNN untuk mempromosikan konservasi simpanse. Ia telah mangkat pada tahun 2025 lalu. Dan terakhir adalah ahli orangutan, Dr.Birute Galdikas yang mangkat pada 24 Maret 2026 lalu, dalam usia 79 tahun. Berita mangkatnya Dr.Galdikas langsung menyebar ke media international, termasuk video wawancaranya dengan Canadian Broadcasting Company (CBC), ditayang-ulang.

Pada tahun 1971 Birute dan suami pertamanya, Rod Brindamour, seorang fotografer dan seorang anaknya, terjun ke Tanjung Puting, Kalimantan Tengah dan memulai penelitiannya tentang orangutan. Kala itu, Tanjung Puting masih sangat terpencil dan jauh dari kehidupan modern. Berkat dedikasinya, kesabarannya, dan pengamatannya yang terus menerus pada kehidupan orangutan maka ia semakin bisa mengenali hewan mamalia yang memiliki tingkat kecerdasan mendekati kecerdasan manusia ini.

Ia berhasil mencatat 400 jenis makanan yang disukai orangutan, mengamati bagaimana kehidupan berkelompok dan bersosialisasi mereka, mengamati bagaimana orangutan memilih pasangan hidup, hingga bagaimana orangutan melahirkan. Pada tahun 1975, majalah National Geographic menulis liputan utama tentang Dr.Galdikas dan fotonya menggendong seekor orangutan terpampang disampul depan majalah konservasi paling unggul di Dunia itu. Dukungan masyarakat Internasional terhadap upaya Dr.Galdikas menyelamatkan orangutan lalu berdatangan. Pada tahun 1983, Tanjung Puting ditetapkan sebagai Taman Nasional oleh Pemerintah RI.

Pada Tahun 1991, dalam rangka Visit Indonesia Year 1991, Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi RI, Soesilo Soedarman menggelar Konperensi Internasional Kera-Kera Besar (The International Conference for Great Apes) di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Konperensi Internasional yang dibuka Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta itu, dihadiri para ahli kera-kera besar Dunia, termasuk Dr. Jane Goodall dan Dr. Birute Galdikas.

Di kesempatan itulah, Dr.Galdikas memohon kepada Presiden Soeharto untuk bisa menjadi WNI. Apalagi setelah berpisah dari suami pertamanya, ia telah menikah lagi dengan Bohap, orang Indonesia asal suku Dayak. Sejak itulah Birute Galdikas menjadi Warga Negara Indonesia.

Pada tahun 2022 lalu, saat bertemu dengan Professor Indroyono Soesilo, sesama ilmuwan, Dr.Galdikas mengharapkan kiranya Taman Nasional Tanjung Puting, dengan habitat orangutan-nya, bisa ditetapkan sebagai World Heritage, atau Warisan Dunia, oleh Badan PBB Bidang Ilmu Pengetahuan, Pendidikan dan Kebudayaan, UNESCO, seperti penetapan Warisan Dunia UNESCO yang telah diperoleh Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Nampaknya, harapan mendiang Dr.Birute Galdikas yang satu ini belum kesampaikan hingga akhir hayatnya.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles