Amerika Serikat adalah negara sekuler, berarti negara netral dalam urusan agama, tidak memihak agama tertentu dan tidak menjadikan agama apapun menjadi agama resmi. Melalui Amandemen Pertama Konstitusi AS maka semua warga negara diperlakukan sama didepan hukum, memiliki hak memeluk agama, atau kepercayaan, dijamin oleh konstitusi, negara tidak boleh mendiskriminasi berdasarkan agama dan tidak boleh memaksakan ajaran agama apapun. Seluruh warga negara dibebaskan untuk melaksanakan seluruh ritual dan ibadah agama, baik di gereja, di masjid, di kuil maupun di shinagog.
Kebebasan untuk memeluk agama dan melaksanakan ritual ibadah agama terasa di Amerika Serikat ini, khususnya di bulan Ramadan, di mana umat Islam di AS melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Jumlah warga muslim di AS pada tahun 2020, diprakirakan mencapai 7 juta orang dan tumbuh pesat didorong imigrasi dan tingkat kelahiran yang relatif tinggi.​
Di bulan Ramadan 2026 ini, berbagai acara buka puasa bersama digelar oleh berbagai komunitas muslim, dikenal dengan kegiatan iftar, di masjid-masjid, termasuk di kedutaan besar negara-negara Islam dan kedutaan negara berpenduduk muslim yang besar di ibukota negara AS, Washington DC ini.
Yang tidak kalah penting adalah gelaran buka puasa bersama komunitas muslim Angkatan bersenjata AS, terdiri Angkatan Darat, Laut, Udara, Marinir, Penjaga Pantai dan Angkatan Antariksa di wilayah Washington DC. Acara buka puasa bersama ini digelar di Markas Defense Logistic Agency, Fort Belvoir, negara bagian Virginia, pada 13 Maret 2026 lalu.
Hadir sebagai tamu kehormatan dalam acara ini adalah Duta Besar RI, Indroyono Soesilo, yang didampingi Atase Darat KBRI Washington DC, Kolonel Tri Arto Subagio. Menariknya, acara dibuka dengan pembacaan doa oleh Pendeta AD AS, Kolonel Thomas Brooks, dilanjutkan dengan lantunan Surat Al Baqarah Ayat 2-183 kitab suci Al Quran, oleh Letnan Dua AD AS Abdul-Gafar Akorede dan Sambutan dari Imam Dr.Talib Syarif.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pesan Ramadan, dituturkan oleh Penasihat Senior Gedung Putih Urusan Kepercayaan (White House Faith Office), Paula White-Cain. Dalam pesannya, Presiden Trump menggambarkan Ramadan sebagai masa yang penuh kekhidmatan untuk pembaruan spiritual, perenungan/refleksi diri, dan rasa syukur atas berkah Tuhan yang tak terhitung.
Ia juga menekankan bahwa bagi banyak warga Amerika, Ramadan menonjolkan praktik doa dan puasa, memperkuat ikatan keluarga dan komunitas, serta menegaskan nilai-nilai universal seperti kasih sayang, amal/kedermawanan, belas kasihan, dan kerendahan hati.
Di penutup, Trump menyampaikan doa agar Ramadan membawa kebahagiaan di rumah tangga, persatuan dan perdamaian di seluruh dunia, serta keberkahan pada tahun yang akan datang. Presiden Trump membentuk White House Faith Office untuk menjadi penghubung antara Gedung Putih dengan pemimpin agama dan organisasi komunitas di seluruh negeri.
Pembicara tamu pada acara Buka Puasa Bersama AB AS ini adalah Brigjen Sahriful Khan, dari AU AS, yang saat ini menjabat salah satu Direktur di Markas Space Force – Pentagon. Ia adalah perwira tinggi AB AS kedua yang beragama Islam, namun yang pertama dari Angkatan Udara AS. Sedang perwira tinggi pertama di AB AS yang beragama Islam adalah Brigjen Cindy Saladin-Muhammad, Deputi Komandan Jenderal Komando Medis ke-807 AD AS, yang meraih pangkat Brigjen pada Juli 2024 lalu.
Dalam ceramahnya, Brigjen Sahriful Khan menegaskan tentang pentingnya pengabdian dan pengorbanan bagi Bangsa dan Negara dikaitkan dengan iman Islam. Berbagai karakteristik militer, seperti ikhlas berkorban, disiplin, loyal, setia-kawan dan saling membantu, kesemuanya adalah sesuai dengan ajaran-ajaran islam.
Jumlah anggota Angkatan Bersenjata AS yang memeluk agama Islam sekitar 20.000 orang. Acara Buka Bersama AB AS seperti ini telah berlangsung sejak 27 tahun terakhir. Pada kesempatan seperti ini, para komandan senior hadir, memuji kontribusi prajurit muslim, dan menegaskan bahwa keberagaman agama adalah sumber kekuatan Angkatan Bersenjata AS.​
***



