Sektor kehutanan global menempatkan peran petani kecil sebagai aktor kunci dalam mendorong keberlanjutan, seiring meningkatnya kebutuhan pasokan kayu legal dan ramah lingkungan di pasar internasional. Laporan terbaru dari International Tropical Timber Organization menegaskan bahwa pemberdayaan smallholder menjadi strategi penting untuk menjaga produktivitas sekaligus kelestarian hutan tropis.
Dalam laporan yang dirilis awal Mei 2026, ITTO menyoroti bahwa smallholder atau pengelola hutan skala kecil memiliki kontribusi signifikan terhadap produksi kayu global, khususnya di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Mereka tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai penjaga praktik kehutanan berkelanjutan di tingkat tapak.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi petani kecil masih cukup kompleks, mulai dari keterbatasan akses terhadap pembiayaan, teknologi, hingga pasar. Kondisi ini membuat sebagian besar produksi belum terintegrasi secara optimal dalam rantai pasok global yang menuntut standar legalitas dan keberlanjutan.
Direktur Eksekutif ITTO, Sheam Satkuru, menyampaikan bahwa pemberdayaan smallholder menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan tersebut. “Petani kecil memiliki potensi besar dalam mendukung produksi kayu berkelanjutan. Namun, mereka membutuhkan dukungan dalam bentuk akses pasar, teknologi, dan pembiayaan agar dapat berpartisipasi secara lebih luas,” ujarnya.
Laporan tersebut juga menyoroti praktik baik dari sejumlah negara, seperti pengembangan sistem agroforestri yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga fungsi ekologis. Di beberapa wilayah, petani kecil berhasil meningkatkan hasil produksi kayu melalui pendekatan terpadu yang mengombinasikan tanaman kehutanan dengan komoditas pertanian.
Selain itu, integrasi dalam rantai nilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing smallholder. Dengan akses terhadap pasar yang lebih luas, termasuk sertifikasi legalitas dan keberlanjutan, petani kecil dapat memperoleh nilai tambah yang lebih tinggi dari produk kayu yang dihasilkan.
ITTO juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, dan organisasi internasional untuk memperkuat ekosistem pendukung. Dukungan kebijakan yang tepat, termasuk insentif dan regulasi yang berpihak pada smallholder, dinilai mampu mempercepat transformasi sektor kehutanan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
“Pemberdayaan smallholder bukan hanya tentang peningkatan produksi, tetapi juga tentang menciptakan sistem yang inklusif, adil, dan berkelanjutan,” tambah Sheam.
Ke depan, ITTO mendorong peningkatan investasi dalam pelatihan, inovasi teknologi, serta penguatan kapasitas kelembagaan petani kecil. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok global sekaligus memastikan keberlanjutan sumber daya hutan di tengah tekanan permintaan yang terus meningkat.
***



