Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan mendorong pengembangan kawasan Golo Mori di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagai destinasi pariwisata berbasis alam yang eksklusif dan berkelanjutan. Upaya ini ditegaskan dalam kunjungan Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki pada Sabtu, 25 April 2026, guna memastikan sinergi antara pembangunan sektor pariwisata dan upaya konservasi lingkungan, khususnya di sekitar kawasan Taman Nasional Komodo.
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah menekankan pentingnya perubahan pendekatan dari pariwisata massal menuju wisata minat khusus atau ekowisata. Langkah ini dinilai mendesak seiring meningkatnya jumlah wisatawan secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap ekosistem jika tidak dikelola secara tepat.
Rohmat Marzuki menyampaikan bahwa lonjakan kunjungan wisatawan di kawasan Taman Nasional Komodo perlu diimbangi dengan strategi distribusi destinasi yang lebih merata. “Saat ini kunjungan wisata sangat terkonsentrasi di titik tertentu sehingga menimbulkan kepadatan. Oleh karena itu, pengaturan kuota dan pengembangan destinasi alternatif seperti Golo Mori menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara pariwisata dan konservasi,” ujarnya.
Pemerintah juga mendorong pengembangan potensi ekowisata di Golo Mori, termasuk wisata pengamatan burung yang dinilai memiliki nilai jual tinggi. Keberadaan spesies endemik seperti kakatua jambul kuning dan maleo menjadi daya tarik yang dapat dikembangkan tanpa merusak habitat alami. Selain itu, upaya rehabilitasi vegetasi melalui penanaman pohon pakan satwa juga akan diperkuat.
Pengelolaan kawasan Golo Mori dilakukan oleh PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) dengan konsep pembangunan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. General Manager ITDC Golo Mori, Wahyuaji Munarwiyanto, menegaskan komitmen pihaknya untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. “Kami memastikan bahwa setiap pengembangan infrastruktur tetap memperhatikan kelestarian alam, sehingga kawasan ini tidak hanya menarik secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan,” katanya.
Selain aspek lingkungan, pemerintah juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan kawasan wisata. Masyarakat di sekitar Golo Mori didorong untuk menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara langsung dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah optimistis Golo Mori dapat menjadi destinasi alternatif yang mampu mengurangi tekanan kunjungan di kawasan inti Taman Nasional Komodo, sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang tetap selaras dengan upaya konservasi.
***



