Jumat, 2 Januari 2026

Pemerintah Dorong Transisi Energi Rendah Karbon hingga Kawasan Timur Indonesia, Perkuat Ketahanan Ekologi dan Lingkungan

Latest

- Advertisement -spot_img

Pemerintah Indonesia terus mempercepat agenda transisi energi rendah karbon, tidak hanya di kawasan urban dan industri, tetapi juga menjangkau wilayah-wilayah terpencil di bagian timur Indonesia.

Inisiatif ini tidak sekadar berorientasi pada elektrifikasi, melainkan juga menjadi strategi penting dalam memperkuat ketahanan lingkungan, mendukung dekarbonisasi sektor energi, serta menurunkan tekanan terhadap kawasan hutan tropis.

Program transisi ini diperkuat melalui MENTARI (Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia), hasil kerja sama antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta.

Program MENTARI telah memasuki fase kedua, dengan fokus memperluas akses listrik bersih dan berkelanjutan di wilayah yang selama ini sulit dijangkau oleh jaringan nasional.

“Wilayah timur adalah garis akhir yang harus kita capai agar pemerataan energi benar-benar terwujud,” ujar Dadan Kusdiana, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, dalam acara Indonesia Low-Carbon Energy Transition (MENTARI) Day di Jakarta, Kamis (3/7/2025).

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan pembangunan 49.000 kilometer sirkuit jaringan transmisi baru, yang sebagian besar dialokasikan untuk kawasan Indonesia Timur.

Infrastruktur ini akan mendistribusikan listrik dari sumber energi terbarukan seperti surya, mikrohidro, dan biomassa.

Dadan menjelaskan bahwa program ini bukan hanya soal listrik, melainkan juga bagian dari solusi ekosistem.

“Transisi energi adalah prasyarat menuju transformasi pembangunan yang inklusif dan ramah lingkungan,” katanya.

Peningkatan akses listrik bersih ke desa-desa dan pulau-pulau terpencil dinilai mampu mengurangi ketergantungan masyarakat pada sumber energi berbasis kayu bakar dan pembakaran biomassa tradisional, yang selama ini menjadi faktor pendorong deforestasi dan kebakaran hutan.

Dengan adanya listrik dari energi terbarukan, tekanan terhadap hutan alam di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara dapat dikurangi secara signifikan.

Selain itu, pengurangan emisi karbon dari sektor rumah tangga juga akan mendukung komitmen Indonesia terhadap target Nationally Determined Contribution (NDC) dalam Perjanjian Paris.

Fase kedua MENTARI yang diperpanjang hingga 2027 menekankan pentingnya integrasi antara agenda energi dan konservasi.

Termasuk di dalamnya adalah pendekatan sosial-ekologis dalam perencanaan proyek, partisipasi masyarakat adat, dan perlindungan terhadap kawasan bernilai konservasi tinggi (HCV).

Program ini juga membuka ruang kolaborasi antara sektor energi dan kehutanan, khususnya dalam proyek agrovoltaik dan pemanfaatan lahan kritis sebagai tapak pengembangan energi surya, tanpa mengorbankan fungsi ekologis lahan. ***

- Advertisement -spot_img

More Articles