Minggu, 5 Februari 2023

Teknologi Modifikasi Cuaca dalam Gelaran KTT G20

More articles

- Advertisement -spot_img

Sukses gelaran KTT G20 di Bali pada 15-16 November 2022 lalu ternyata juga didukung oleh para pakar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang bekerja siang malam guna memastikan seluruh kegiatan KTT G 20, termasuk acara Jamuan Kenegaraan yang megah di kawasan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), dapat berlangsung sukses tanpa adanya guyuran hujan, di tengah musim penghujan bulan November ini. 

Empat pesawat udara TNI-AU di siagakan di Bandara Lombok dan Bandara Banyuwangi untuk siap terbang setiap saat guna berburu awan dan menaburkan  butiran NaCl serta campuran butiran CaCO3. Tujuannya membuat awan-awan tadi menjadi lembab dan bisa diturunkan sebagai hujan di luar kompleks  KTT G20 Nusa Dua dan kompleks GWK. 

Operasi yang melibatkan BMKG, BRIN dan TNI-AU itu dipimpin pakar TMC Dr. Tri Handoko Seto dan terbukti berhasil sukses.  

Semua kegiatan luar ruang KTT G20, baik acara santap siang di Kubah Bambu Nusa Dua, Acara Santap Malam Kenegaraan di GWK maupun kegiatan di Taman Hutan Raya-Mangrove, Ngurah Rai, Denpasar berlangsung tanpa terganggu guyuran hujan. 

Apresiasi datang dari banyak pihak, terutama dari Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi Luhut B. Panjaitan sebagai Ketua Bidang Dukungan Penyelenggaraan KTT G20, yang baru mengetahui kemampuan TMC untuk menghadapi kondisi iklim dan cuaca ini. 

Luhut bahkan berpendapat perlunya ada lembaga khusus yang menangani TMC ini di Indonesia, mengingat teknologi modifikasi cuaca sangat bermanfaat untuk bidang pertanian, pengisian air waduk, mencegah turunnya hujan, antara lain di wilayah wilayah pertambangan, atau untuk membasahi lahan gambut agar tidak terbakar.

TMC telah dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 1978, dimulai dengan uji statis di menara kincir angin puncak Gunung Tangkuban Perahu Jawa Barat, guna menebarkan butiran halus NaCl dan butiran halus CaCO3 pada awan dipuncak Gunung Tangkuban Perahu dan bisa menurunkan hujan. 

Beberapa tokoh TMC Indonesia, antara lain Almarhum R.Soebagjo, Sriworo Harijono, Asep Karsidi, Samsul Bahri, Tri Handoko Seto, Heru Widodo dan masih banyak lagi. 

Uji coba dilanjutkan dengan operasi hujan buatan menggunakan pesawat terbang untuk mengisi air waduk Jatiluhur pada tahun 1979 lalu. 

Penerapan TMC terus berkembang dan waduk-waduk di Indonesia, seperti Waduk Kotopanjang, Maninjau, Sempor, Wadaslintang, Gajah Mungkur, Waduk Sutami, Waduk Inalum, Danau Toba dan masih banyak lagi, selalu menggelar Operasi TMC guna tetap menjaga tinggi muka air di waduk-waduk tadi. 

Operasi TMC di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur, kesemuanya di Jawa Barat, juga selalu menerapkan teknologi TMC. Apalagi ketiga waduk tadi sangat penting untuk melayani air bersih di ibukota Jakarta. 

Pembangkit Listrik dipertambangan nikel Soroako, Sulawesi Selatan sangat tergantung pada ketersediaan air di Danau Towuti, Matano dan Balambano.  Ini hanya dapat dipenuhi dengan operasi TMC yang rutin setiap tahunnya.

Sukses Indonesia menurunkan luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari 2,6 juta hektare di tahun 2015 menjadi hanya 360 ribu hektar ditahun 2021, antara lain, didukung oleh Operasi TMC ini juga.

Saat pelaksanaan Asian Games XVIII Tahun 2018, selama 40 hari penuh Operasi TMC digelar BPPT di wilayah Palembang guna menjamin tidak ada asap kebakaran hutan dan lahan di wilayah tadi.

Pada Paparan IPTEK VOICE, yang digelar pada Minggu, 27 November 2022, pakar TMC, Dr. Asep Karsidi, memaparkan potensi hilirasi Teknologi TMC di Indonesia dengan dukungan teknologi mutakhir. 

Saat ini, mulai diterapkan teknologi flare menggantikan teknologi sebar serbuk NaCl.  Teknologi yang telah dikembangkan BPPT bersama AS dan Kanada sejak tahun 1999 lalu itu sekarang mulai dipakai untuk mendukung program pengurangan hujan di wilayah-wilayah konsensi pertambangan batubara di Kalimantan. 

Teknologi TMC Flare/dok. cloud seeding technologies.com

TMC-Flare cukup menggunakan pesawat kecil sehingga bisa menekan biaya serta lebih effisien.  Selain itu, teknologi flare ini bisa diterapkan di wilayah-wilayah konsesi hutan alam mengingat operasi pembalakan dan pengangkutan kayu hutan alam untuk memasok industri kayu lapis kerap terkendala oleh cuaca, utamanya hujan yang lebat.

Kemampuan anak bangsa dalam menerapkan iptek dibidang modifikasi cuaca ini patut diapresiasi dan bisa diterapkan untuk kemaslahatan serta peningkatan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. ***

- Advertisement -spot_img

Latest