Minggu, 5 Februari 2023

Sawit Ternyata Berkontribusi Besar dalam Pengendalian Perubahan Iklim

More articles

- Advertisement -spot_img

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Laksmi Dewanthi menjelaskan untuk menekan emisi karbon dari sektor penggunaan lahan, pemerintah telah menerbitkan kebijakan penghentian penerbitan izin baru di hutan primer dan lahan gambut.

“Kebijakan ini juga berlaku untuk perkebunan,” katanya.

Laksmi mengatakan, untuk peningkatan produksi minyak sawit kebijakan yang diimplementasikan tidak lagi ekstensifikasi lahan tetapi intensifikasi seperti tertuang dalam dokumen NDC.

“Pemerintah akan mendorong produktivitas kebun sawit dari 18,18 ton per hektare di tahun 2019 menjadi 20,4 ton per hektare ada tahun 2030,” katanya.

Laksmi juga menjelaskan berdasarkan Instruksi Presiden (INPRES) Nomor 6 Tahun 2019. Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Tahun 2019-2024 pemerintah akan terus mendorong perkebunan sawit untukmelakukan aksi perlindungan keanekaragaman hayati dan bentang lahan.

Ketentuan itu juga akan menjadi panduan untuk menyelesaikan persoalan satus lahan perkebunan sawit dan upaya-upaya lain untuk pengurangan emisi gas rumah kaca.

Wakil Rektor IPB University Profesor Dodik R Nurrochmat menjelaskan untuk meningkatkan penyerapan emisi karbon di lahan terdegradasi, pengembangan kebun sawit dengan pola agroforestry bisa dijadikan pilihan.

“Agroforestry sawit akan meningkatkan produktivitas lahan menjaga fungsi hidrologis dan ekologis dan meningkatkan penyerapan dan penyimpanan karbon,” katanya.

Dia menyatakan dengan meningkatkan produktivitas lahan, maka kebakaran hutan dan lahan yang menjadi salah satu sumber emisi karbon bisa ditekan.

“Cara yang paling efektif untuk mengurangi emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan adalah dengan meningkatkan produktivitasnya. Pada lahan yang produktif kebakaran bisa dicegah karena akan ada pengelolanya,” kata Dodik.***

- Advertisement -spot_img

Latest