Minggu, 5 Februari 2023

Mengenal Tarsius Supriatnai, Maskot AMFC 2023 yang Sandang Nama Ahli Biologi Indonesia

More articles

- Advertisement -spot_img

Provinsi Gorontalo terpilih menjadi tuan rumah perhelatan kejuaraan sepakbola mini (Asia Mini Footbal Championship/AMFC) yang akan digelar Juli 2023.

Yang menarik, pada kejuaraan yang akan digelar untuk pertama kalinya itu, primata terkecil di dunia Tarsius Supriatnai terpilih sebagai maskot.

Penetapan dan inagurasi Gorontalo sebagai tuan rumah AMFC 2023 ditandai dengan penandatanganan kesepakatan dan komitmen penyelenggaraan AMFC 2023 antara Penjabat (Pj) Gubernur  Gorontalo, Hamka Hendra Noer, dengan Presiden Asian Mini Football Confederation (AMFC), Mohammad Alddausari, yang disaksikan Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali, Jumat, 16 September 2022.

Mengutip situs AMFC, sepak bola mini dimainkan di lapangan yang lebih kecil dibandingkan sepakbola biasa, 6 lawan 6 pemain.

Berbeda dengan futsal yang dimainkan di lapangan tertutup dengan lapangan “keras”, sepakbola mini dimainkan di lapangan terbuka dengan permukaan rumput alami atau sintetis.

Tarsius Supriatnai/Foto: Tom Kirschey/CC BY-NC 4.0/free to share

“Terkait penyelenggaraan AMFC 2023 mendatang, kami memilih Tarsius Supriatnai sebagai maskot. Maskot ini kami beri nama Tarsilo yang merupakan singkatan Tarsius Gorontalo karena memang spesies ini hanya ada di Gorontalo,” jelas Hamka.

Tarsius merupakan satwa yang termasuk ke dalam Ordo Primata. Ukurannya kecil, hanya sekitar setengah kepalan tangan orang dewasa. Dikutip dari laman ksdae.menlhk.go.id penampakan tarsius seperti perpaduan antara monyet dan burung hantu karena struktur tengkorak kepala dan wajah yang hampir serupa dengan burung hantu namun dengan tubuh seperti monyet. 

Tarsius adalah primata karnovira. Bahkan pada kenyataannya, tarsius adalah satu-satunya primata karnivora sementara kebanyakan primata adalah omnivora bahkan herbivora. Pakan utama tarsius adalah serangga, atau binatang kecil lainnya.

Ciri khas lain dari tarsius adalah matanya yang sangat besar, menguasai sebagian wajahnya. Meski demikian, matanya tak bisa digerakkan.

Untuk melihat keadaan sekitar, tarsius memiliki kemampuan memutar kepalanya hingga 180 derajad.

Matanya yang bulat besar itu membantunya mengintai mangsa di malam hari mengingat tarsius adalah satwa nokturnal (aktif di malam hari).

Tarsius memiliki tulang tarsus di kaki belakang yang panjang. Ini membuat kakinya secara keseluruhan menjadi amat panjang melebihi ukuran tubuhnya.

Keunikan tulang tarsus ini yang menjadi asal-usul nama tarsius. Kakinya yang panjang sangat itu membuatnya bisa melompat jauh hingga 3 meter untuk menangkap mangsanya.

Bulu tarsius sangat lembut dan mirip beludru, biasanya berwarna cokelat abu-abu, cokelat muda atau kuning-jingga muda.

Tarsius adalah primata yang dijuluki sebagai fosil hidup karena diperkirakan sudah ada sejak aman Eosen atau sekitar 50 juta tahun lalu tanpa banyak mengalami perubahan bentuk fisik kecuali ukurannya.

Tarsius bisa di temukan di pulau-pulau wilayah Asia Tenggara. Termasuk salah satunya adalah Tarsius Supriatnai yang bisa ditemukan di Gorontalo.

Tarsius Supriatnai merupakan spesies tarsius yang paling anyar ditemukan dan dipublikasikan di Jurnal Primate Conservation pada Mei 2017 lalu.

Temuan Tarsius supriatnai dipublikasikan dalam tulisan berjudul “Two New Tarsier Species (Tarsiidae, Primates) and the Biogeography of Sulawesi, Indonesia”, yang ditulis Myron Shekelle, Colin P. Groves, Ibnu Maryanto, and Russell A. Mittermeier.

Profesor Jatna Supriatna/dok: TFCA Sumatera

Fakta lain yang menarik adalah Tarsius Supriatnai menyandang nama ahli biologi asal Indonesia yang sudah malang melintang di dunia konservasi, yaitu Profesor Jatna Supriatna.

Nama belakang satwa yang dalam bahasa Gorontalo disebut mimito itu diambil dari nama Profesor Jatna Supriatna untuk menghargai dedikasinya pada dunia biologi dan konservasi di Indonesia. ***

- Advertisement -spot_img

Latest