Selasa, 6 Desember 2022

Iptek dan Hilirisasi Industri Kehutanan

More articles

- Advertisement -spot_img

Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dihadapan Sidang Tahunan MPR, menyambut  Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-77, Selasa, 16 Agustus 2022, menegaskan tentang proses hilirisasi industri di Indonesia, serta transisi energi yang  tengah berlangsung dalam rangka mengurangi emisi karbon, sesuai Kesepakatan Paris 2015. 

Dikatakan Presiden bahwa proses hilirisasi bahan tambang nikel telah menghasilkan produk olahan setengah jadi dan produk produk industri hilir nikel lainnya,  sehingga bisa meningkatkan ekspor 18 kali lipat, dari hanya Rp16 triliun pada 2014 menjadi Rp306 triliun di tahun 2021, dan diproyeksikan mencapai Rp440 triliun pada tahun 2022 ini. 

Proses hilirasi serupa juga akan diterapkan pada industri industri tembaga, timah dan bauksit, sehingga nilai tambang semaksimal mungkin akan berada di dalam negeri, membuka lapangan kerja, meningkatkan kandungan lokal dan memberikan pemasukan sebesar besarnya untuk Negara.

Proses hilirisasi industri menerapkan iptek, riset dan inovasi dengan sumberdaya manusia yang mumpuni. 

Presiden juga meyampaikan tentang proses transisi energi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan seperti energi matahari, panas bumi, angin, ombak laut dan energi biomasa. 

Dipacu pula persemaian dan rehabilitasi  hutan tropis  dan hutan mangrove yang menjadi potensi besar penyerapan karbon.

Selain pada sumberdaya alam tak terbarukan, seperti mineral dan migas, proses hilirisasi industri kehutanan, yang merupakan industri terbarukan, juga terus dipacu akhir-akhir ini. 

Dari hanya ekspor produk bahan baku dari hutan alam pada dekade 1970-an, lalu mengalami hilirisasi industri  pada dekade 1980-an, dengan produk kayu lapisnya. 

Sesuai berjalannya waktu, industri kehutanan Indonesia bergerak menuju industri hutan tanaman, menghasilkan hilirisasi bahan baku pulp, kertas, masker kesehatan hingga furnitur dan energi biomasa. 

- Advertisement -spot_img

Latest