Minggu, 5 Februari 2023

N-250 Gatotkoco: Pembuktian Kemampuan Anak Bangsa

More articles

- Advertisement -spot_img

Transformasi teknologi tahap III diarahkan pada pembuatan produk industri dengan proses rancang-bangun penuh dilaksanakan oleh para insinyur dan teknisi dalam negeri secara mandiri. Lewat integrasi sistem dan rancang-bangun teknologi mutakhir tadi maka muncullah pesawat N-250 Gatotkoco, yang merupakan pesawat komuter paling canggih dikelasnya pada saat itu, termasuk sistem kendali “fly by wire”, yang kala itu hanya diterapkan pada pesawat-pesawat penumpang bermesin jet.

Transformasi teknologi tahap IV segera dimulai. Di sini, berbagai riset dasar dan riset terapan digairahkan guna menghasilkan produk-produk baru yang lebih unggul, dengan teknologi lebih maju dan membuka lapangan kerja lebih banyak. Di industri pesawat terbang, transformasi teknologi tahap IV akan diwujudkan pada produk pesawat N-2130.

Sayang, krisis multi-dimensi yang berujung pada Reformasi 1998 terjadi di Indonesia. Proyek pesawat N-250 Gatotkoco, yang segera memasuki tahapan produksi, harus dihentikan sesuai bunyi Letter of Intent yang ditandatangani Indonesia – International Monetary Fund (IMF). Proses transformasi teknologi terhenti dan para insinyur penerbangan Indonesia, yang sudah sangat mumpuni tadi, harus mencari kerja di industri-industri penerbangan Perancis, AS, Canada dan Brasil. “Brain Drain” telah terjadi.

Lalu, bagaimana kedepannya? Indonesia diproyeksikan menjadi negara maju saat HUT RI ke-100, 17 Agustus 2045 mendatang dan masuk 5 besar kekuatan ekonomi Dunia. Konsultan Mckinsey (2012) memproyeksikan Indonesia akan melompat dari kekuatan ekonomi Dunia No.16 saat ini menjadi kekuatan ekonomi Dunia No.7 pada tahun 2030, asalkan memiliki prasyarat tersedianya sumberdaya manusia mumpuni dan golongan menengah sebanyak 135 juta orang. Kita harus naik kelas menjadi Negara Berpenghasilan Tinggi (High Income Country) .

Kita tidak mau terjebak ke dalam ”The Middle Income Trap” atau ”Jebakan Negara Berpenghasilan Menengah” yang pertumbuhan ekonominya sekedarnya saja namun pertumbuhan ekonomi tadi langsung diserap kembali kedalam konsumsi ekonomi dalam negeri. Tidak cukup tersedia sumberdaya untuk berinvestasi guna melompat menuju kelompok negara berpenghasilan ekonomi tinggi.

- Advertisement -spot_img

Latest