Minggu, 5 Februari 2023

Manisnya Bisnis Stevia Boleh Dicoba PBPH

More articles

- Advertisement -spot_img

Perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) kini bisa menerapkan model bisnis multi-usaha kehutanan untuk mengelola konsesinya seperti diatur dalam Undang-undang Cipta Kerja.

Dengan multi-usaha kehutanan, PBPH tak hanya bisa memanfaatkan hasil hutan kayu tapi juga non-kayu dan jasa lingkungan.

Salah satu komoditas yang layak untuk dilirik adalah stevia. Tanaman perdu yang punya nama latin Stevia Rebaudiana itu bisa dimanfaatkan sebagai bahan pemanis pengganti gula.

Dibanding gula tebu, stevia lebih sehat karena tanpa kalori dan memiliki indeks glikemik yang rendah, cocok bagi penderita diabetes.

Hal itu membuat permintaan stevia makin naik seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat masyarakat global.

Tahun 2021 lalu pasar stevia mencapai 675,22 juta dolar AS secara internasional. Dengan pertumbuhan rerata sekitar 10% per tahun, pasar stevia diproyeksikan akan mencapai 1,1 miliar dolar AS di tahun 2026.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo menjelaskan tanaman stevia potensial untuk dikembangkan di PBPH dengan model bisnis multi-usaha kehutanan.

“Dengan multi-usaha kehutanan PBPH bisa mengembangkan tanaman apapun asal sesuai dengan kaidah pengelolaan hutan lestari,” katanya saat diskusi terfokus tentang pengembangan Stevia, Kamis 16 Juni 2022.

Indroyono mengatakan pemegang PBPH punya aset besar berupa lahan yang sudah seharusnya bisa dimanfaatkan.

Pemanfaatan konsesi PBPH secara optimal diharapkan bisa meningkatkan nilai lahan hutan, mencegah deforestasi dan mendukung tercapainya komitmen Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

“Luas seluruh areal PBPH sekitar 30 juta hektare, ini harus kita manfaatkan secara optimal,” kata Indroyono.

Menurut dia, stevia bisa dikembangkan dengan pola agroforestry. Selain stevia, Indroyono mengatakan, APHI juga akan terus menggali berbagai komoditas potensial lainnya yang bisa dimanfaatkan.

Diskusi terfokus tentang pengembangan Stevia yang diselenggarakan APHI

Peneliti stevia dari Kementerian Pertanian, Sumaryono menjelaskan stevia mengandung senyawa kimia organik Glikosida Steviol terutama pada daunnya yang bisa dijadikan gula.

“Kelebihan gula stevia adalah rasanya yang sangat manis, 200 kali lipat jika dibandingkan gula tebu,” katanya.

Selain itu, gula stevia juga non kalori sehingga cocok untuk mereka yang sedang menjalani diet atau kegemukan.

Stevia memiliki indeks glikemik 0 yang membuatnya cocok bagi penderita diabetes. Selain itu, gula stevia juga stabil pada suhu tinggi sehingga cocok untuk pembuatan kue.

Sumaryono mengungkapkan stevia juga memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan pemanis sintetik yang kerap digunakan sebagai pengganti gula tebu.

“Berbeda dengan pemanis sintetik yang terbuat dari kimia, gula stevia terbuat dari bahan alami sehingga lebih sehat,” katanya.

Merupakan tanaman perdu, punya umur sekitar 2-3 tahun. Namun pada lokasi yang cocok, kata Sumaryono, stevia bisa hidup hingga 3-4 tahun.

“Seperti di Tawangmangu umurnya bisa mencapai 4 tahun,” katanya.

Dia menjelaskan, stevia bisa tumbuh di daerah dengan iklim tropis hingga subtropis.

Di tempat tropis ketinggian lahan untuk stevia bisa berproduksi optimum adalah di 800-200 meter dari permukaan laut (mdpl) dengan suhu udara berkisar 20-30 derajat celsius

Untuk pertumbuhan stevia membutuhkan tanah gembur dengan drainase yang baik dan memiliki kandungan bahan organik tinggi dengan pH 5-7.

Stevia juga butuh curah hujan yang cukup basah sekitar 1500-2300 mm per tahun dengan maksimal 3 bulan kering. Tanaman stevia sensitif pada kekeringan terutama saat awal pertumbuhan.

Menurut Sumaryono, Stevia yang ditanam pada daerah sub tropis dengan panjang hari kurang dari 13 jam hanya akan berbunga sekali, sementara di daerah tropis akan lebih rajin berbunga.

Momen sebelum tanaman stevia berbunga adalah momen yang tepat untuk dilakukan panen. Pasalnya pada saat itu kandungan Glikosida Steviol sedang tinggi.

Jika panen terlambat, kandunganya senyawa itu akan turun.

“Makanya di daerah sub tropis pohon stevia bisa tinggi karena hanya berbunga sekali, sementara di daerah tropis pendek, karena lebih rajin berbunga jadi harus lebih sering dipanen,” katanya.

Stevia ditanam dengan mulsa plastik seperti menanam tanaman hortikultura cabe. Tujuannya mencegah tumbuhnya gulma dan menjaga agar daun stevia tetap bersih dari percikan tanah.

Pada saat panen, daun stevia dan pucuk tunas lunaknya dipangkas. Sebulan atau 2 bulan kemudian stevia sudah bisa dipanen kembali.

“Kalau sudah dipanen terus menerus biasanya stevia akan mati dan harus diganti dengan tanaman baru,” kata Sumaryono.

Untuk mendapat bibit stevia cukup mudah. Stevia bisa diperbanyak melalui biji, stek batang atau kultur jaringan. Perbanyakan stevia melalui stek batang relatif murah dan mudah, sementara dengan menggunakan kultur jaringan akan lebih cepat, massal dan sesuai dengan induknya.

Sumaryono menjelaskan Glikosida Steviol pada stevia mengandung beberapa komponen. Dua komponen utama adalah steviosida (C18H60O18) dan Rebaudiosida A atau biasa disingkat Reb A (C44H70O23).

“Kandungan steviosida yang tinggi bisa membuat gula stevia menyebabkan rasa langu. Sementara kalau kandungan Reb A-nya yang tinggi tidak langu. Makanya pengembangan klon tanaman stevia diarahkan untuk memperoleh tanaman dengan kandungan Reb A yang tinggi,” katanya.

Peneliti stevia lainnya, M Cholid menjelaskan stevia memiliki potensi besar di pasar dalam negeri. Dia menjelaskan saat ini penderita diabetes di Indonesia semakin meningkat karena konsumsi gula tebu yang berlebihan.

“Masyarakat bisa beralih mengkonsumsi gula stevia. Saat ini gula stevia untuk kebutuhan dalam negeri masih sepenuhnya impor,” katanya.

Saat ini konsumsi gula stevia terus meningkat di berbagai Negara. Pasar Stevia diperkirakan akan meningkat dari 675,2 juta dolar AS di tahun 2021 menjadi 739,7 juta dolar AS tahun 2022.

“Dengan pertumbuhan sekitar 10% per tahun, pasar stevia diperkirakan mencapai 1,1 miliar dolar AS pada tahun 2026,” katanya.

Pertumbuhan stevia juga didorong dengan riset untuk meningkatkan Reb A, Reb D, dan Reb M yang membuat gula stevia lebih nikmat dikonsumsi.

Pionir

Salah satu PBPH yang sudah mulai tergiur untuk mengembangkan stevia adalah PT Multistrada Agro International.

“Kami telah melakukan uji coba di lahan seluas 2 hektare di Sukabumi sejak tahun 2016,” kata Managing Director PT Multistrada Agro International Kartika D Antono.

Kartika mengatakan pengembangan stevia dalam skala yang lebih luas akan dilakukan di konsesi PBPH yang berada di Sulawesi Tengah.

“Setelah RKU Multi Usaha selesai dengan pola agroforestry,” katanya.

Kartika D Antono/dok. AIM

Multistrada berencana untuk menanam stevia seluas 5.000 hektare di konsesi tersebut. Jika terealisasi, produksi stevia dari lahan tersebut bisa mengganti 1/3 dari impor gula tebu Indonesia yang saat ini mencapai 4 juta ton per tahun.

“Pengembangan stevia ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menstabilkan harga gula,” katanya.

Dia menjelaskan stabilitas harga gula hanya bisa dicapai jika ongkos angkut murah dari Sabang sampai Merauke.

Hal ini bisa dicapai dengan pemanfaatan gula stevia yang konsentrat pemanisnya tinggi jika dibandingkan dengan gula tebu.

“Ongkos angkut tinggi karena volume nya besar. Kalau memanfaatkan stevia volume gula bisa lebih kecil sehingga ongkos angkutnya lebih murah,” katanya.

Penggunaan gula stevia, lanjut Kartika juga akan menghemat anggaran kesehatan Negara mengingat saat ini sepertiga dari pemanfaatan biaya BPJS terkait dengan penyakit yang diakibatkan dari diabetes seperti gagal ginjal dan jantung koroner.

Multistrada sudah melakukan hitung-hitungan yang manis secara bisnis. Berdasarkan proyeksi dibutuhkan ongkos tanam sebesar Rp53 juta per hektare dengan umur produksi 2-3 tahun.

Selain itu dibutuhkan perawatan berupa pestisida organik mengingat yang dimanfaatkan pada stevia adalah daunnya.

Daun stevia yang dipanen lalu dikeringkan dan bisa dipasarkan.

Menurut Kartika, pendapatan kotor yang bisa diperoleh dari budidaya stevia bisa mencapai 5.000 dolar AS per tahun. “Nilainya akan lebih tinggi kalau sudah berupa produk jadi,” katanya.

Untuk pengembangan stevia, Multistrada saat ini masih harus mengimpor benih dari Malaysia. Benih yang diimpor adalah benih tanaman stevia yang tinggi kandungan Reb A dan bisa ditanam di dataran rendah dimana benih seperti ini belum bisa dihasilkan di dalam negeri

Dia berharap dukungan dari Kementerian Pertanian untuk mendapat izin impor benih tersebut.

Direktur Perbenihan Tanaman Perkebunan Kementan Saleh Mukhtar mengatakan pihaknya siap mendukung pengembangan stevia di tanah air.

“Tidak hanya stevia, kami juga siap mendukung pengembangan komoditas lainnya,” kata dia. ***

- Advertisement -spot_img

Latest