Minggu, 5 Februari 2023

Analisis Potensi Ekonomi Pengembangan Komoditas Kapulaga Berbasis Agroforestri Integratif di Area Kerja APHI

More articles

- Advertisement -spot_img

C. Peluang Pemanfaatan Kapulaga Melalui Skema Agroforestri sebagai Potensi Multiusaha

Upaya dalam meningkatkan nilai produksi hasil hutan non kayu, dapat dilakukan dengan skema agroforestri. Skema agroforestri sebagai upaya untuk meningkatkan nilai ekspor sebenarnya memiliki banyak pilihan untuk dikembangkan, salah satu yang berpotensi tinggi yaitu kapulaga. Tumbuhan endemik Indonesia ini merupakan rempah termahal ketiga di dunia. Permintaan ekspor kapulaga di pasar dunia terus meningkat semenjak krisis ekonomi di tahun 2011-2013. Produksi kapulaga dunia mencapai 70.000 juta ton dan nilai perdagangannya di tahun 2015 mencapai 51,76 juta ton. Harganya pun tinggi yaitu sekitar Rp45.000/kg di dalam negeri dan Rp400.000/kg di luar negeri (Hani et al., 2021).

Banyak negara pesaing seperti Guatemala, India, Nepal dan Singapura yang sedang mengembangkan pula komoditas kapulaga ini. Jika dilihat Indonesia berada di peringkat dua setelah Guatemala dalam hal ekspor kapulaga dunia. Indonesia masih tertinggal jauh dari Guatemala yang menguasai 50% ekspor kapulaga di pasar dunia (Hani et al., 2021).

Luas panen kapulaga dari tahun 2014 hingga 2018 terus mengalami penurunan dari 4,23 ribu hektar menjadi 1,15 ribu hektar. Hal tersebut dikarenakan adanya konversi lahan kapulaga menjadi peruntukan lainnya. Dilain sisi, produksi kapulaga selama lima tahun terakhir menunjukkan nilai yang relatif dinamis dengan tren yang naik-turun. Produksi kapulaga sendiri selain dipengaruhi oleh luas lahan namun juga produktivitas per satuan luasan. Produktivitas kapulaga setiap tahun relatif meningkat sehingga perlunya perluasan lahan untuk tanaman kapulaga untuk meningkatkan produksi kapulaga (Hani et al., 2021).

Faktanya, di Indonesia pengembangan jenis kapulaga ini masih terpusat di Pulau Jawa. Di daerah luar Jawa produksi komoditas kapulaga ini masih rendah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, menunjukkan bahwa hampir semua provinsi di luar Pulau Jawa rata – rata produksi kapulaganya masih berada dibawah angka 100.000 kg. Tercatat hanya Provinsi Sumatera Barat yang mencapai angka 6.504.791 kg. Jika dibandingkan dengan provinsi di Pulau Jawa yang memiliki produksi kapulaga cukup tinggi seperti Jawa Tengah mencapai 25035.781 kg, Jawa Barat 58.246.793 kg, Jawa Timur 3.993.998 kg, dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 468.000 kg. Padahal tanaman ini selain nilai ekspor tinggi juga memiliki siklus panen yang singkat. Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, tanaman ini dapat dipanen hingga 4 kali dalam setahun. Tanaman ini juga cocok bila dikembangkan dengan skema agroforestri dibawah naungan tanaman kayu. Sifat kapulaga yang multifungsi sebagai tanaman rempah, obat maupun bahan kosmetik menjadikan tanaman ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi (Fachriyah dan Sumadri, 2007).

- Advertisement -spot_img

Latest